Momentum Muharram untuk Peran Ayah: Merefleksikan Kepemimpinan dan Kasih Sayang
Bulan Muharram, sebagai awal tahun baru Islam, bukan hanya tentang pergantian kalender, tetapi juga momen introspeksi dan pembaharuan. Bagi seorang ayah, Muharram bisa menjadi momentum berharga untuk merefleksikan dan memperkuat perannya sebagai pemimpin, pelindung, dan teladan dalam keluarga.
Bayangkan Muharram sebagai "titik nol" atau "garis start" di trek lari kehidupan keluarga. Di sinilah ayah bisa mengevaluasi jejak langkah tahun lalu dan menyusun strategi untuk lari yang lebih baik di tahun depan. Ini adalah kesempatan untuk meninjau kembali komitmen, menajamkan visi, dan menguatkan batin agar bisa membimbing keluarga menuju kebaikan.
Kenapa Kaitan Ini Penting?
Kisah-kisah besar dalam sejarah Islam yang terjadi di bulan Muharram, seperti peristiwa hijrah Nabi Muhammad ﷺ, penuh dengan pelajaran tentang kepemimpinan, kesabaran, strategi, dan pengorbanan. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan peran ayah. Seorang ayah ibarat nahkoda kapal keluarga yang harus piawai membaca arah angin, menghadapi badai, dan memastikan seluruh penumpang (anggota keluarga) selamat sampai tujuan.
Apa yang Bisa Dilakukan Sosok Ayah? Contoh dari Al-Quran dan Hadis Sahih
Peran ayah dalam Islam sangat mulia dan diamanahkan langsung dari Allah SWT. Mari kita lihat beberapa contoh dan analogi yang bisa menjadi inspirasi:
1. Ayah sebagai Pemimpin yang Bijaksana (Qawwam)
Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman:
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka." (QS. An-Nisa: 34)
Ayat ini menempatkan laki-laki, dalam konteks keluarga, sebagai qawwam atau pemimpin. Namun, kepemimpinan ini bukan otoriter, melainkan kepemimpinan yang melayani.
Analogi: Seorang ayah layaknya arsitek rumah tangga. Ia tidak hanya merancang denah, tetapi juga memastikan setiap fondasi kuat, setiap dinding kokoh, dan setiap ruangan nyaman untuk dihuni. Ia tidak hanya memberi perintah, tapi juga ikut serta membangun, bahkan mungkin kotor-kotoran demi terealisasinya rumah impian itu.
Praktik Nyata di Muharram:
* Membangun Fondasi Akhlak: Manfaatkan Muharram untuk memulai atau menguatkan rutinitas ibadah bersama keluarga, seperti shalat berjamaah, membaca Al-Quran, atau berzikir. Ayah bisa menjadi inisiator dalam mengajarkan nilai-nilai Islam, sebagaimana Nabi Ibrahim as. yang membimbing keluarganya.
* Menciptakan Visi Keluarga: Duduklah bersama istri dan anak-anak. Diskusikan apa harapan keluarga di tahun baru Hijriah ini. Visi yang jelas akan menjadi kompas bagi perjalanan keluarga, mencegahnya tersesat di tengah arus kehidupan.
2. Ayah sebagai Pelindung dan Sumber Keamanan (Hafizh)
Ayah memiliki tanggung jawab untuk melindungi keluarganya dari bahaya, baik fisik maupun spiritual.
Hadis Sahih:
Dari Abdullah bin Umar RA, Nabi Muhammad ﷺ bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang pemimpin adalah penguasa atas rakyatnya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka." (HR. Bukhari dan Muslim)
Analogi: Ayah ibarat tembok kokoh yang melindungi sebuah kebun. Tembok itu tidak hanya menahan angin kencang, tetapi juga mencegah masuknya hama atau orang yang berniat buruk. Ia memberikan rasa aman dan nyaman bagi setiap tanaman (anggota keluarga) di dalamnya untuk tumbuh subur.
Praktik Nyata di Muharram:
* Menjaga Aqidah Keluarga: Di Muharram, sebagai permulaan, ayah bisa memperkuat benteng iman keluarga. Ajak anak-anak untuk belajar kisah para nabi, keutamaan beribadah, dan menghindari hal-hal yang dapat merusak aqidah, seperti ghibah atau perilaku buruk lainnya. Ini adalah bentuk perlindungan spiritual yang paling mendasar.
* Menyediakan Lingkungan Aman: Pastikan lingkungan rumah dan interaksi keluarga bebas dari kata-kata kasar atau tindakan yang menyakiti. Ayah bisa menjadi penyaring yang memastikan informasi atau pengaruh negatif tidak merusak mental dan jiwa anak-anak.
3. Ayah sebagai Sumber Kasih Sayang dan Kelembutan (Rauf)
Meski seorang pemimpin dan pelindung, ayah juga harus memancarkan kasih sayang dan kelembutan.
Hadis Sahih:
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukanlah termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang dewasa." (HR. Tirmidzi)
Metafora: Kasih sayang ayah seperti akar pohon yang dalam dan kuat. Akar itu tidak terlihat, namun dialah yang menopang seluruh bagian pohon, menyalurkan nutrisi, dan membuatnya tetap berdiri tegak meski diterpa badai. Kasih sayang ayah mungkin tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata manis, tapi dirasakan dari tindakan nyata yang penuh perhatian dan pengorbanan.
Praktik Nyata di Muharram:
* Meningkatkan Kualitas Waktu Bersama: Di awal tahun ini, ayah bisa merencanakan lebih banyak waktu berkualitas dengan anak-anak. Ini bukan hanya tentang kuantitas, tapi juga kualitas. Mungkin dengan membaca buku bersama, bermain, atau mendengarkan cerita mereka tanpa distraksi gadget. Ini akan menjadi investasi emosional jangka panjang.
* Memberikan Apresiasi dan Motivasi: Ayah bisa lebih sering memuji dan mengapresiasi usaha anak, sekecil apa pun itu. Kata-kata penyemangat dari ayah memiliki kekuatan besar untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi anak.
Momentum Muharram: Awal Baru untuk Ayah Hebat
Muharram adalah pengingat bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik. Bagi seorang ayah, ini adalah kesempatan emas untuk mengukir jejak kepemimpinan yang bijaksana, perlindungan yang kokoh, dan kasih sayang yang tulus dalam sanubari keluarga. Jadikan Muharram ini sebagai langkah pertama yang mantap menuju peran ayah yang lebih teladan dan berdampak positif bagi dunia.
Sebagai penutup, Momentum Muharram adalah awal yang sempurna bagi setiap ayah untuk merefleksikan dan memperkuat perannya sebagai pemimpin, pelindung, dan sumber kasih sayang bagi keluarga. Dengan menjadikan nilai-nilai kepemimpinan dari kisah Nabi, perlindungan yang kokoh, serta kelembutan yang menyentuh, seorang ayah dapat mengambil langkah mantap di tahun baru Hijriah ini untuk membangun keluarga yang lebih harmonis dan melahirkan generasi yang kuat, sebagaimana yang dicontohkan dalam Al-Quran dan Hadis Shahih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar