Minggu, 07 Juli 2024

Belajar Sastra dan Membuat Puisi: Sebuah Perjalanan Kreatif.


Belajar Sastra dan Membuat Puisi: Sebuah Perjalanan Kreatif.

Oleh: Sri Sugiastuti

Sastra merupakan payung luas yang menaungi berbagai karya seni tulis, termasuk puisi. Dalam mempelajari sastra, tidak hanya akan menyelami keindahan bahasa, tetapi juga membuka pintu menuju dunia imajinasi, emosi, dan makna yang mendalam.

Sebelum belajar puisi sebaiknya pahami dulu apa itu puisi.
Puisi merupakan satu bentuk karya sastra yang berisi ungkapan hati, pikiran, dan perasaan penyair yang dituangkan dengan memanfaatkan segala daya bahasa, kreativitas dan imajinasi pengarang dengan rangkaian bahasa yang indah serta mengandung irama juga makna.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi adalah ragam sastra yang bahasa terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.
Sastra dan puisi bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Bagi para pecinta seni, belajar sastra dan membuat puisi adalah sebuah perjalanan kreatif yang penuh petualangan. Di sepanjang perjalanan pasti akan menemukan berbagai hal menarik, seperti:

1. Mempelajari Kekayaan Bahasa:
Sastra membawa kita pada kekayaan bahasa yang tak terhingga. Akan banyak ditemukan berbagai gaya bahasa, majas, dan alat-alat sastra lainnya yang digunakan untuk menciptakan makna dan keindahan dalam karya tulis.

2.Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis:
Sastra mengajak orang untuk berpikir kritis dan analitis. Kita akan belajar untuk menafsirkan makna tersembunyi dalam karya sastra, memahami konteks sosial dan budaya di baliknya, dan mengevaluasi kualitasnya.

3.Mengembangkan Kreativitas dan Imajinasi:
Membuat puisi adalah sebuah ekspresi kreatif yang tak terbatas. Di sini, kita bebas menuangkan imajinasi dan ide-ide ke dalam bentuk kata-kata yang indah dan penuh makna.

4.Memperdalam Emosi dan Pengalaman:
Sastra dan puisi mampu membangkitkan berbagai emosi, mulai dari kebahagiaan, kesedihan, hingga kemarahan. Dengan membaca dan membuat karya sastra, orang dapat belajar memahami dan mengelola emosinya dengan lebih baik.

5.,Menemukan Makna dan Kebenaran:
Sastra sering kali mengangkat tema-tema universal tentang kehidupan, kematian, cinta, dan kehilangan. Dengan mempelajarinya, kita dapat menemukan makna dan kebenaran yang lebih dalam tentang diri kita dan dunia di sekitarnya.

Belajar Sastra dan Membuat Puisi: Tips untuk Pemula

1.Membaca karya sastra dari berbagai genre dan periode. Semakin banyak Anda membaca, semakin kaya referensi dan wawasan Anda tentang sastra.

2.Menganalisis karya sastra secara kritis. Perhatikan bagaimana penulis menggunakan bahasa, struktur, dan majas untuk menciptakan makna dan efek tertentu.

3.Mencoba menulis puisi Anda sendiri. Jangan takut untuk bereksperimen dengan berbagai gaya dan bentuk puisi.

4.Bergabung dengan komunitas pecinta sastra. Berbagi ide dan pengalaman dengan orang lain dapat membantu Anda untuk belajar dan berkembang dalam bidang sastra.

Manfaat Belajar Sastra dan Membuat Puisi:
1.Meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis
2. Memperluas pengetahuan dan wawasan tentang dunia
3.Mengembangkan kreativitas dan imajinasi
4.Meningkatkan kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi
5.Menemukan makna dan kebenaran tentang diri sendiri dan dunia

Dapat disimpulkan  bahwa belajar sastra dan membuat puisi adalah sebuah kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan. Dengan mempelajarinya, kita dapat meningkatkan berbagai kemampuan, wawasan bertambah, kekayaan batin melimpah rumah, dan mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan.

Sumber:
  https://id.wikipedia.org/wiki/Puisi https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/puisi https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/16/120000569/puisi-arti-dan-jenisnya?page=all

Soloraya, 07 07 2024

Sabtu, 06 Juli 2024

Domba Kuring

Domba Kuring

Oleh: Sri Sugiastuti

Judul lagu ini sangat menarik hati penulis dan sepakat untuk dijadikan tulisan di buku Antologi bertema "Kenangan Temu Kangen Penulis 3 KBMN di Bandung." Sebenarnya apa istimewanya, kok bisa kepincut dan punya ide untuk mengabadikan dalam bentuk buku antologi?

Saat lagu itu diputar dan didengar pertama kali oleh penulis yang berasal dari Solo, ia begitu menikmati dan langsung jatuh cinta walaupun sebagian besar arti dari lagu tersebut tidak dipahami.

Rasa penasaran penulis terjawab ketika berselancar dan mendapatkakan pencerahan dari https://balaibahasajabar.kemdikbud.go.id/menilik-makna-lagu-domba-kuring-melestarikan-literasi-bahasa-dan-sastra-demi-penguatan-jati-diri-bangsa/

Maestro Sunda, yaitu Darso yang membuat lirik lagu “Domba Kuring”. Berkat entakan irama yang akrab di telinga masyarakat Indonesia, tak mengherankan bila saat ini lagu tersebut tengah digandrungi oleh berbagai kalangan, baik muda maupun tua, bahkan video lagu itu meraih jutaan tinjauan di berbagai platform media sosial.

Lantas, apa sebenarnya makna dari lagu tersebut? Dibuka dengan lirik Miara domba téh dua. Domba bikang duanana yang artinya ‘Memelihara domba itu dua. Domba betina dua-duanya.’

Lagu ini menceritakan tentang kebanggaan dan komitmen dalam memelihara domba-domba secara mandiri yang tersurat dalam salah satu lirik yang paling diingat masyarakat: Domba-domba kuring. Diangon-angon ku kuring. 

Pemilihan hewan domba sebagai objek dalam lagu “Domba Kuring” bukan tanpa alasan. Jika ditelaah kembali sejarahnya, domba amat erat dengan kebudayaan adu ketangkasan hewan dari daerah Jawa Barat, yaitu Kabupaten Garut. Lewat ajang ini, masyarakat yang memiliki domba mampu bersaing mendapatkan prestise bahkan uang jutaan rupiah (Nurhuda dan Firdaus, 2023).

Budaya ini sudah mengakar ke dalam masyarakat Kabupaten Garut, bahkan Indonesia, karena penamaan khas “domba garut” sudah masuk entri KBBI dengan definisi domba yang tubuhnya besar, lebar, dan kuat, tanduk jantannya besar, melengkung ke belakang terus ke depan membentuk semacam lingkaran. Kata domba garut yang sarat akan nilai kebudayaan bisa ditemukan dalam lirik Jaluna mah domba adu asal Garut. 

Masyarakat Jawa Barat memandang domba sebagai hewan yang memiliki prestise. Oleh karena itu, memelihara domba menjadi aktivitas yang ditekuni secara serius oleh masyarakat yang mempunyai hobi merawatnya. Dengan adanya prestise bagi pemiliknya, domba dirawat dengan kasih sayang, kebanggaan, dan rasa memiliki yang tinggi. Bagi masyarakat Jawa Barat, khususnya Kabupaten Garut, merawat domba layaknya merawat budaya. Domba garut yang sudah menjadi bagian dari budaya adu ketangkasan sejak tahun 1915, secara tidak langsung menjadi tonggak kebudayaan masyarakatnya (Nurhuda dan Firdaus, 2023).

Semangat merawat domba garut yang menggelora sejak puluhan tahun yang lalu masih dipupuk sampai saat ini. Lantas, mampukah kita memupuk semangat yang sama dalam merawat budaya Indonesia?


Tentunya bisa, salah satu caranya adalah dengan merawat literasi bahasa. Lagu “Domba Kuring” yang merupakan bagian dari literasi kebudayaan lewat musik yang multietnik dan berkaitan erat dengan kebudayaan merawat domba ini mengisyaratkan kita untuk senantiasa merawat literasi budaya, bahasa, dan sastra. 


Lirik Ayeuna geus ngalobaan. Ngalobaan, aranakan, yang artinya, ‘Sekarang sudah bertambah, bertambah dan beranak’ menjadi refleksi bahwa layaknya merawat domba yang perlu diperhatikan, dimandikan, bahkan dikembangbiakkan, merawat literasi bahasa dan sastra juga harus penuh dengan perhatian, pemutakhiran, dan pengembangan. 


Ini penting karena dengan literasi yang lestari, bangsa Indonesia akan bersinergi untuk mencapai kemajuan yang pasti.

Literasi merupakan fondasi perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut Prof. E. Aminudin Aziz dalam pembekalan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2023, literasi harus dipandang sebagai sesuatu yang holistik. Artinya, literasi tidak hanya didefinisikan sebagai kecakapan membaca dan menulis huruf, tetapi juga kecakapan menggunakan atau mengaktualisasikan informasi, baik teks maupun nonteks. 

Apa gunanya bisa membaca dan menulis teks tanpa bisa menggunakan informasi tersebut di dalam aksi nyata? 


Dengan adanya pemahaman ini, kehadiran literasi dipandang luas dan sangat penting sebagai “ruh” yang menghidupkan setiap ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, literasi harus dirawat dengan baik. 


Itulah sebagian besar alasan mengapa si "Domba Kuring" bisa mencuri hati penulis. Kebersamaan penulis dengan peserta Temu Kangen Penulis 3 KBMN di Bandung, saat jelang penutupan berkaraoke ria menyanyikan lagu Domba Kuring memang  sangat pas mantap,  ada unsur hiburan, literasi, sastra dan bangga menjadi orang Indonesia yang kaya budaya.


Lirik lagu "Domba Kuring"


Miara domba téh dua

Domba bikang duanana

Ayeuna geus ngalobaan

Ngalobaan, aranakan


Ka balad-balad di désa

Ka dulur anu di lembur

Ulah kagét, ulah héran

Ulah nanyakeun jaluna


Bisi jadi masalah

Bisi jadi pitnah

Ulah turut campur

Sabab domba-domba kuring


Domba-domba kuring

Diangon-angon ku kuring

Diparaban ku kuring

Anakna gé anu kuring


Domba-domba kuring

Diangon-angon ku kuring

Dimandian ku kuring

Anakna gé anu kuring


Saha jaluna?

Mana jaluna?

Saha jaluna?

Jaluna mah domba adu asal Garut

Yuk kita nyanyi bareng dan cari tahu terjemahan selengkapnya.

Soloraya,  06 07 2024


Jumat, 05 Juli 2024

Menavigasi Dunia Pendidikan: dengan 5 Kunci Sukses Guru di Era Digital

Menavigasi Dunia Pendidikan: dengan 5 Kunci Sukses Guru di Era Digital

Oleh: Sri Sugiastuti

Dunia pendidikan saat ini terus berubah dan beradaptasi untuk memenuhi tuntutan zaman. Saat ini informasi dan pengetahuan dapat diperoleh dengan mudah. Sangat penting bagi institusi pendidikan tidak hanya fokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan keterampilan dan nilai-nilai yang relevan dengan zaman.

Pemangku kebijakan Pendidikan sebaiknya mengintegrasikan teknologi, berinovasi, dan berfokus pada inklusi, pendidikan akan menjadi katalisator bagi pertumbuhan dan kemajuan masyarakat di masa depan.

Harapan di atas membutuhkan sosok guru yang ada di garda terdepan.  Sebagai guru di era digital mereka dituntut mampu menghadapi tantangan dan menangkap peluang yang ada untuk menavigasi dunia pembelajaran yang kian dinamis dan serba cepat.

Revolusi industri yang sedang berlangsung tampaknya terus mendorong orang untuk mengembangkan keterampilan mereka sehingga mereka dapat mengikuti kemajuan mereka (Bashori, 2018).

Untuk menjadi guru yang sukses di era digital, diperlukan sejumlah kunci yang esensial. Inilah 5 kunci yang harus dilengkapi oleh seorang guru milenial yang bersahabat dengan digital.

1. Membuka Diri Terhadap Perubahan dan Perkembangan Teknologi.
Era digital ditandai dengan perkembangan teknologi yang pesat. Guru dituntut untuk selalu up-to-date dengan perkembangan teknologi dan mampu memanfaatkannya dalam proses belajar mengajar. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti pelatihan, workshop, atau seminar terkait teknologi pendidikan, serta aktif mencari informasi dan sumber belajar baru secara online.

2. Meningkatkan Kemampuan Pedagogik dan Andragogik
Guru di era digital tidak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus memiliki kemampuan pedagogik dan andragogik yang mumpuni. Pedagogik adalah ilmu tentang cara mengajar anak-anak, sedangkan andragogik adalah ilmu tentang cara mengajar orang dewasa.

3. Menciptakan Pembelajaran yang Interaktif dan Menyenangkan
Siswa di era digital memiliki gaya belajar yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka lebih menyukai pembelajaran yang interaktif, menyenangkan, dan berpusat pada siswa. Guru perlu kreatif dalam merancang pembelajaran yang menarik dan relevan dengan kehidupan siswa.

4. Membangun Komunikasi yang Efektif dengan Siswa dan Orang Tua
Komunikasi yang efektif sangatlah penting dalam membangun hubungan yang baik antara guru, siswa, dan orang tua. Guru perlu mampu berkomunikasi dengan baik dengan siswa, baik secara langsung maupun online, serta menjalin komunikasi yang terbuka dengan orang tua untuk mendukung proses belajar mengajar.

5. Menjadi Pembelajar Mandiri dan Terus Berkembang
Guru di era digital harus memiliki semangat belajar mandiri dan terus berkembang. Mereka perlu selalu mencari informasi dan pengetahuan baru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan dengan membaca buku, mengikuti kursus online, atau mengikuti komunitas guru online.
Menjadi guru di era digital bukanlah hal yang mudah, namun dengan tekad yang kuat, kerja keras, dan kemauan untuk terus belajar, setiap guru dapat menjadi pendidik yang sukses dan berprestasi.

Pendidikan di Indonesia harus dipersiapkan sedini mungkin agar generasi penerus dapat mengikuti perkembangan zaman dan memimpin negara ke arah yang lebih baik. Menguasai teknologi dapat membantu beradaptasi dengan transformasi digital yang berkembang yang terjadi di dunia pendidikan saat ini.

Penguasaan teknologi tentu memudahkan proses pembelajaran dan membantu meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, transformasi digital akan berdampak signifikan terhadap perkembangan komunitas pendidikan dan kualitas pendidikan itu sendiri.

Di era digital ini, sangat penting untuk memahami dan menerapkan penggunaan teknologi secara bijak agar dapat beradaptasi dengan transformasi digital. Teknologi mempengaruhi kualitas pendidikan di masa yang penuh gejolak ini.

Paparan di atas pada akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa, kunci sukses menjadi guru di era digital terletak pada kemampuan guru untuk beradaptasi dengan perubahan, meningkatkan kemampuan pedagogik dan andragogik, menciptakan pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, membangun komunikasi yang efektif, serta menjadi pembelajar mandiri dan terus berkembang.

Dengan memenuhi kunci-kunci tersebut, guru dapat menjadi pendidik yang andal dan mampu mengantarkan generasi muda menuju masa depan yang gemilang.

Soloraya, 05 07 2024

Kamis, 04 Juli 2024

Membangun Personal Branding

Membangun Personal Branding

Oleh: Sri Sugiastuti

“Bangunlah citra diri Anda untuk karier yang Anda inginkan, bukan untuk pekerjaan yang Anda miliki.” – Dan Schawbel

Di saat kita membentuk citra diri yang kuat di era digital ini, personal branding menjadi kunci untuk menonjolkan diri di tengah keramaian. Ketahuilah Personal branding adalah proses membangun citra diri yang positif dan profesional. Ini tentang bagaimana kita ingin orang lain melihat dan memperhitungkan kita, berdasarkan nilai, keahlian, dan pengalaman yang dimiliki.

Membangun personal branding membutuhkan waktu dan usaha, tetapi manfaatnya banyak. Berikut beberapa langkah untuk memulai:

1. Kenali Diri Sendiri
Langkah pertama adalah memahami diri sendiri. Apa yang disukai? Apa yang  dikuasai? Dan Apa tujuan Anda?

2. Tentukan Target Audiens
Siapa yang ingin dijangkau dengan personal branding kita? Apakah ingin menarik klien baru, mendapatkan peluang kerja baru, atau membangun komunitas?

3. Buat Cerita yang Kuat
Cerita yang ditampilkan adalah apa yang akan membuat kita berbeda dari orang lain. Bagikan pengalaman, pencapaian, dan nilai-nilai yang diraih dengan cara yang menarik dan otentik.

4. Pilih Platform yang Tepat
Ada banyak platform online dan offline yang dapat digunakan untuk membangun personal branding. Pilih platform yang sesuai dengan target audiens.

5. Konsisten dan Otentik
Membangun personal branding membutuhkan waktu dan usaha. Kuncinya adalah konsisten dalam membagikan konten yang dimiliki dan tetap otentik dalam diri sendiri.

Berikut beberapa contoh cara membangun personal branding:

1. Membuat blog atau website untuk berbagi konten yang terkait dengan keahlian yang dimiliki.

2. Aktif di media sosial dan berinteraksi dengan audiens dan komunitas.

3. Berbicara di acara atau konferensi untuk membagikan pengetahuan Anda.

4. Menulis artikel atau buku tamu untuk publikasi online atau offline.

5. Menjadi sukarelawan untuk organisasi yang didukung.
Membangun personal branding adalah proses yang berkelanjutan. Seiring waktu, akan melihat bagaimana personal branding membantu dalam mencapai tujuan. 

Ingatlah: personal branding bukan tentang menjadi orang lain. Ini tentang menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri dan membagikannya dengan dunia.

Beberapa sosok yang sukses dengan personal branding:
1. Merry Riana 
Merry Riana sadar betul akan pentingnya personal branding. Merry menyatakannya secara gamblang dengan mengatakan: “Kita semua adalah CEO dari merek kita sendiri. Di dunia branding agency, saya menyebut: “Kualitas konten adalah raja.” Semua kualitas dirimu, maka nilai-mu juga akan naik.

2.Michelle Obama

Dia selalu konsisten menunjukkan citra yang alami, seolah-olah memang begitulah Michelle Obama dalam keberadaannya yang cerdas, karismatik, mandiri, kuat, dan berperilaku baik. Respon masyarakatnya pun sangat baik. Hal ini turut didukung dengan latar belakangnya sebagai kulit hitam yang kerap dipandang sebelah mata sehingga ia kerap dianggap sebagai wakil minoritas. Berkat keberanian dalam bekerja serta jiwa sosialnya yang tinggi, Michelle Obama berhasil membangun personal branding yang positif secara global.

3.Hermanto Tanoko 

Hermanto Tanoko pernah menjalani hidup yang begitu keras. Sejak usia muda, ia telah diajarkan berinvestasi oleh ayahnya melalui cara sederhana, yaitu melalui toko milik keluarganya. Hermanto juga turut membantu menjaga toko sederhana milik ayahnya sejak kanak-kanak. Di sana, ia mulai mempelajari pengetahuan produk, mengatur waktu belajar dan berbisnis, hingga mempelajari bagaimana cara agar bisnis bisa sukses. Berkat semangat kerja yang tinggi, sifat pekerja keras, tangguh, dan pantang menyerah, kini Hermanto Tanoko berhasil mendirikan 8 perusahaan subholding, yang terdiri dari 100 brand aktif yang mengelola 36 unit bisnis, dengan lebih dari 11.000 jumlah total karyawan.

4. Steve Jobs 

Steve Jobs telah membuktikan kata-katanya melalui berbagai karya-karyanya. Sifat Steve Jobs yang pantang menyerah, ingin terus berkembang, tidak berorientasi pada uang, dan berani menjadi diri sendiri yang out of the box telah membuatnya menjadi sosok inspiratif dalam dunia pengembangan teknologi. Bahkan mungkin menjadikannya salah satu legenda. Bagi kamu yang berkarir di dunia branding agency sebagai pekerja kreatif, kualifikasi seperti ini sangat dibutuhkan.

Dengan adanya 4 sosok yang memiliki branding keren ini, apakah Anda siap membangun personal branding Anda? Yuk, tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.


Soloraya,  04 07 2024

Rabu, 03 Juli 2024

Menguak Tabir Penyakit Hati dan Solusinya dalam Islam


Menguak Tabir Penyakit Hati dan Solusinya dalam Islam

Oleh: Sri Sugiastuti 

“Ketahuilah, di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, baiklah tubuh seluruhnya, dan apabila daging itu rusak, rusaklah tubuh seluruhnya. Ketahuilah olehmu, bahwa segumpal daging itu adalah kalbu [hati].” (HR. Bukhari).

Di dalam diri manusia, terdapat organ yang tak kalah pentingnya dengan organ fisik lainnya, yaitu hati. Bukan hanya berperan dalam metabolisme tubuh, hati dalam perspektif Islam juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Dalam Islam, hati sering diidentikkan dengan sifat-sifat batiniah manusia, yang menjadi sumber segala perbuatan dan akhlak.

Hati yang sehat bagaikan taman yang subur, menumbuhkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Sebaliknya, hati yang sakit bagaikan lahan tandus, ditumbuhi sifat-sifat tercela yang dapat menyeret manusia ke jurang kemaksiatan.

Memahami Penyakit Hati

Penyakit hati, dalam Islam, merujuk pada berbagai sifat tercela yang bersarang di dalam hati. Sifat-sifat ini dapat menggerogoti keimanan dan akhlak seseorang, menjerumuskannya ke dalam dosa dan maksiat. 

Ada 10 penyakit hati yang harus kita waspadai.

1. Riya’
Riya’ adalah sifat yang ketika seseorang melakukan sesuatu selalu diungkit-ungkit dan ingin dipuji. Riya ini juga dapat menghilangkan pahala karena seseorang yang beramal bukan atas dasar karena Allah Swt.

2. Sombong
Bahaya orang-orang yang sombong ada pada Al-Qur’an surah Luqman ayat 18, “Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri." (Q.S Luqman: 18).

3. Ghibah
Larangan menggunjing ada dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 12, “Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha penyayang."(QS. Al-Hujurat: 12).

4. Ghadab (Pemarah)
Sifat ini memang tabiat manusia, akan tetapi jika tidak bisa mengendalikannya, seseorang akan lebih mudah melakukan perbuatan buruk. Ketika marah, seseorang juga akan sulit berpikir jernih. Maka dari itu, ada nasihat yang mengatakan jangan memutuskan sesuatu saat sedang marah. Amarah itu datangnya dari setan, maka berlindunglah kepada Allah Swt.

5. Munafik
Munafik adalah mereka yang mengaku beriman tetapi dalam hatinya terdapat kekufuran. Bahaya munafik terdapat dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 138, “Sampaikanlah berita gembira sebagai ejekan dan kecaman kepada orang-orang munafik, wahai nabi Muhammad, bahwa bagi mereka di akhirat kelak siksaan yang pedih, dan bahkan mereka akan berada pada tingkat yang paling rendah, buruk, dan berat dari neraka Jahanam sebagai balasan dari perbuatan mereka.” (Q.S An-Nisa: 138).

6. Dengki
Salah satu penyakit hati yang juga harus disembuhkan yaitu iri dengki. memiliki sifat iri dengki juga dapat menghilangkan pahala kebaikan. Sebagaimana dalam hadis riwayat Abu Daud, “Waspadalah terhadap hasad, sesungguhnya hasad mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu.” (HR. Abu Daud).

7. Kikir
Bahaya kikir terdapat dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 180, “Sekali-kali janganlah orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allahlah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran : 180).

8. Rakus
Orang yang memiliki penyakit hati ini tidak akan puas dengan hidupnya. Orang yang memiliki sifat ini akan terus memuaskan dirinya dengan sifat-sifat duniawi.

9. Ananiah
Salah satu penyakit hati yang juga patut diwaspadai dan disembuhkan yaitu sifat ananiah atau egois (mementingkan diri sendiri). Sifat seperti ini akan menghancurkan dirinya dan akan jauh dari rahmat Allah.

10. Namimah
Namimah atau adu domba, salah satu kegiatan yang dibenci Rasulullah. Dalil tentang namimah ada pada Al-Qur’an surah Al-Qalam, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.” (QS Al-Qalam:10-12).

Pengobatan Penyakit Hati dalam Islam

Islam menawarkan berbagai solusi untuk mengobati penyakit hati. Pengobatan ini tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga mencakup dimensi fisik dan sosial. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengobati penyakit hati:

1.Memperbanyak Muhasabah: Melakukan introspeksi diri untuk menyadari kekurangan dan kesalahan yang telah dilakukan.

2.Memperbanyak Istighfar: Meminta ampunan kepada Allah SWT atas dosa-dosa yang telah diperbuat.

3.Memperbanyak Dzikrullah: Mengingat Allah SWT dengan menyebut asma-Nya dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an.

4.Memperbanyak Doa: Memohon kepada Allah SWT untuk diberikan hati yang bersih dan terhindar dari penyakit hati.

5.Membaca Al-Qur'an dan Tadabbur:
Membaca Al-Qur'an dengan penuh pemahaman dan merenungkan maknanya.

6. Menjalani Ibadah dengan Khusyuk:Melaksanakan ibadah dengan sepenuh hati dan penuh kesadaran.

7.Mencontoh Akhlak Rasulullah SAW: Mengikuti akhlak mulia Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

8. Bergaul dengan Orang-Orang Saleh:
Menjalin pertemanan dengan orang-orang yang beriman dan bertakwa.

9.Menjauhi Pergaulan yang Buruk: Menghindari lingkungan yang dapat membawa kepada perbuatan dosa dan maksiat.

10.Menyibukkan Diri dengan Hal-Hal Positif: 
Mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat dan bernilai ibadah.

11.Bersedekah: 
Memberikan sebagian harta benda untuk membantu orang lain yang membutuhkan.

12.Berpuasa: Melatih diri untuk menahan diri dari hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

13. Melakukan Haji atau Umrah: Menjalankan ibadah haji atau umrah untuk membersihkan hati dan jiwa dari dosa-dosa.

Menjaga kesehatan hati merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Dengan mengobati penyakit hati, kita dapat meningkatkan kualitas keimanan dan akhlak, serta meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Ingatlah bahwa hati yang sehat adalah kunci menuju kehidupan yang penuh keberkahan dan kebahagiaan. Semoga kita terhindar dari penyakit hati yang sangat berbahaya dan merugikan kehidupan di dunia dan di akhirat.

Sumber : 
[https://uin-malang.ac.id/](https://uin-malang.ac.id/) [https://www.um-surabaya.ac.id/article/dosen-fai-um-surabaya-paparkan-jenis-penyakit-hati-dalam-islam-yang-perlu-diwaspadai](https://www.um-surabaya.ac.id/article/dosen-fai-um-surabaya-paparkan-jenis-penyakit-hati-dalam-islam-yang-perlu-diwaspadai) [https://www.nu.or.id/tasawuf-akhlak/macam-macam-penyakit-hati-dan-badan-UQIUu](https://www.nu.or.id/tasawuf-akhlak/macam-macam-penyakit-hati-dan-badan-UQIUu)

Soloraya, 03 07 2024

Selasa, 02 Juli 2024

10 Cara Efektif Belajar Diksi di Dunia Kepenulisan


10 Cara Efektif Belajar Diksi di Dunia Kepenulisan

Oleh: Sri Sugiastuti

Belajar menjadi seorang Penulis perlu proses. Salah satunya menguasai Diksi, atau pilihan kata, yang merupakan salah satu elemen penting dalam dunia kepenulisan. Penggunaan diksi yang tepat dapat membantu penulis menyampaikan ide dan gagasannya dengan lebih jelas, efektif, dan menarik bagi pembaca. Oleh karena itu, bagi para penulis, menguasai diksi menjadi sebuah keharusan.

Ada 10  cara efektif untuk belajar diksi di dunia kepenulisan:

1. Rajin Membaca  Buku.
Satu cara terbaik untuk belajar diksi adalah dengan banyak membaca buku yang disukai dan berkualitas. Dengan membaca, kita berkesempatan belajar memilih  berbagai macam pilihan kata yang digunakan oleh penulis-penulis andal. Hal ini sangat membantu memperkaya kosakata dan meningkatkan pemahaman  tentang penggunaan diksi yang tepat.

2. Memperbanyak Kosakata

Semakin banyak kosakata yang dimiliki, semakin banyak pilihan kata yang dapat digunakan dalam tulisan. Kita dapat memperbanyak kosakata dengan membaca kamus, tesaurus, dan buku-buku yang membahas tentang bahasa. Menambah kosakata bisa belajar kata-kata baru dari percakapan sehari-hari atau dengan menonton film dan acara televisi.

3. Berlatih Menulis

Semakin banyak berlatih menulis, semakin banyak jam terbang menulis maka semakin terbiasa ketika memilih kata-kata yang tepat. Cobalah menulis cerita pendek, puisi, artikel, atau blog. Disarankan juga bisa mengikuti komunitas menulis online atau offline untuk mendapatkan masukan dari penulis lain.

4. Memperhatikan Makna Kata

Dalam tulisan banyak kata yang sama tetapi beda Sartinya atau Maknanya. Dan Setiap kata memiliki makna yang berbeda-beda. Perlu berlatih menulis banyak kalimat dengan memperhatikan Makna kalimat yang ditulis. Pastikan dapat memahami makna kata yang  digunakan sebelum memasukkannya ke dalam tulisan . Salah satu caranya dengan mencari informasi tentang makna kata di kamus atau online.

5. Memperhatikan Konteks

Makna kata juga dapat berbeda-beda tergantung pada konteks penggunaannya. Pastikan memilih kata yang sesuai dengan konteks kalimat atau paragraf yang ditulis. Dengan memperhatikan Konteks maka diksi yang dikuasai semakin bervariasi, sehingga tulisan yang disajikan semakin diminati atau dirindukan.

6. Rajin Membuka Kamus dan Tesaurus

Kamus dan tesaurus dapat membantu penulis menemukan kata yang tepat untuk digunakan dalam tulisan sebuah tulisan. Kamus dapat memberikandan membantu memberikan definisi kata, sedangkan tesaurus dapat memberikan bermacam sinonim dan antonim kata yang akan memperkaya sekaligus mewarnai tulisan kita.

7. Berkonsultasi atau Berkolaborasi dengan Penulis Lain

Jika merasa kesulitan dalam memilih kata yang tepat, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan penulis lain. Penulis lain dapat memberikan masukan dan saran tentang penggunaan diksi yang tepat dalam tulisan yangbakan dibuat.Dengan berkonsultasi penulis merasa lebih percaya diri untuk menuntaskan tulisannya.

8. Mengikuti Kelas Menulis

Ada banyak kelas menulis yang tersedia, baik online maupun offline. Baik gratis maupun berbayar. Kelas Belajar ini dapat membantu Penulis Pemula mempelajari diksi dan aspek-aspek lain dari penulisan yang baik.

9. Membaca Ulang atau Mengendapkan Tulisan.

Setelah selesai ditulis, bacalah kembali tulisan tersebut dengan seksama. Perhatikan penggunaan diksi juga pastikan telah memilih kata yang tepat. Penulis juga bisa meminta orang lain untuk membaca tulisan tersebut dan diminta untuk memberikan masukan.

10. Terus Menulis

Belajar diksi adalah proses yang berkelanjutan. Semakin banyak  belajar, semakin baik penguasaan terhadap diksi. Teruslah membaca, menulis, dan berlatih untuk meningkatkan kemampuan dalam memilih kata yang tepat.

Dengan mengikuti 10b tips-tips di atas, maka belajar diksi dengan lebih efektif akan meningkatkan kualitas tulisan. Ingatlah bahwa diksi adalah salah satu elemen penting dalam dunia kepenulisan, dan menguasai diksi dapat membantu Penulis menjadi penulis yang lebih baik.

Bagaimana dengan tulisan pembaca hari ini?

Soloraya, 02 07 2024

Senin, 10 Juni 2024

Di Balik Tajamnya Lidah

                                                         Sumber Gambar Doc pri. Dwi Rukmi Endang
Di Balik Tajamnya Lidah

Oleh: Sri Sugiastuti 
                                                     
“Yaitu orang-orang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan dengan kezaliman, bagi mereka diberikan rasa aman dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk Allah.”(Q.S. al An’am:82)

Seperti biasa sepulang sekolah aku sempatkan mampir ke rumah ibu angkatku, untuk sekedar say hello, dan melihat keadaannya apa dia baik-baik saja. Biasanya aku langsung berwudhu dan sholat dzuhur. Selesai sholat, kalau kebetulan ada sesuatu yang bisa dimakan, ya kami makan bersama. Ijah pembantu ibuku yang  biasanya menyiapkan makan siang kami. 

Belum jua aku mengambil nasi yang ada di magic jar, suara Ibuku sudah mengagetkanku.
“Jah koq sayur ibu asin banget sih, kamu pengen kawin ya! Dasar perawan tua, sudah dikandhani bola-bali koq yo dibaleni!”Astaghfirulllahalaazim.”  Ibu marah besar hanya karena sayur yang dibuat si Ijah keasinan.

Ibu masih saja berkata kasar sama Ijah, mentang-mentang si Ijah sudah mengabdi pada keluarganya lebih dari 30 tahun. Aku malu mendengar perkataan itu. Tapi begitulah sifat jelek ibu. Selera makanku jadi hilang.

“Mbak , nanti aku diantar ke Solo Square ya, banyak barang discount besar-besaran di sana, kemarin sudah ada tas yang ku incar, tapi ketika mau beli aku sungkan sama mantuku!” Selesai makan  ibu mengajakku untuk menemaninya membeli tas yang diinginkan,

“Ya Allah Bu, Bukannya tas ibu sudah banyak dan masih bagus-bagus pula…!” Kataku mencegah dengan halus keinginannya
“Tapi mbak, yang berwarna ungu tua seperti baju yang baru diambil dari tukang jahit itu belum ada stelan tasnya, " jawab Ibu memberi alasan.
.” Kalau untuk setelan  baju baru itu, memang belum ada, tapi apa ya harus setiap baju baru dibelikan tas baru juga,” kataku dalam hati.

”Oke lah Bu besok ya aku antar, kalau siang ini aku masih ada urusan lain,” jawabku sedikit merayu.
Sampai rumah ketika aku leyeh-leyeh merebahkan badanku di atas tempat tidur, pikiranku melayang pada ajakan ibu angkatku tadi siang. Aku ngajak bicara hatiku.

“Ibu itu usianya sudah 79 tahun, tapi nafsu belanjanya koq masih besar ya? Apa masih pantas orang seusia dia mengoleksi barang-barang yang konsumtif seperti itu? Kepuasan apa ya yang didapat ketika bisa beli barang-barang bermerek seperti itu? Bukannya barang itu nantinya akan jadi rebutan anak-anaknya? Lah wong kemarin saja anak putrinya yang sulung sudah nembung  tas merah yang dulu dia beli di Italy. Lalu anaknya yang putri lainnya ngiri. “Secara terus terang Tika si bungsu juga ingin memiliki barang koleksi ibunya.
“Mami kalau mbak Rina yang minta tasnya dikasih, aku minta juga dong Mam!”  Ya ibu pernah cerita tentang anak-anaknya yang menginginkan barang milik ibunya.

Dahlia, nama ibu angkatku memang hidup berkecukupan, suaminya pensiunan pejabat. Anaknya juga jadi orang semua. Maksudte sukses gitu lohhh. Depositonya banyak. Semua keluh kesahnya ada yang nampung. Ingin baju model terkini pun tidak masalah, ingin makan enak di restro yang paling mahal pun oke-oke saja.
“Apa karena dia merasa selalu ada ya?. Sehingga pola pikir untuk belanja dari mulai jadi ibu muda sampai sekarang sudah oma-oma masih nafsu saja kalau ada barang bermerek yang didiscount.0 Padahal jatuhnya mahal-mahal juga,” Itu menurutku.

Sebenarnya satu-dua anaknya sih ada yang protes atas sifat ibu yang belum bisa berubah sejak  dulu. Dia memang terkenal arogan, nyinyir, dan keras hati. Maka tidak heran bila akhirnya suami ibu  lari darinya dan menikahi sekretaris yang ada di salah satu perusahaan yang dimilikinya. Ibu bisa bertahan walau diduakan karena dia tidak terlalu ngurus pada suami. Yang penting kebutuhan materi anak-anak dan dirinya terpenuhi. 

“Silakan keluar dari kehidupanku Mas. Aku sudah tidak sudi kau sentuh lagi…! Tabu bagiku bermesraaan dengan orang yang sudah menzalimiku.” Dulu ibu pernah menceritakan kemarahannya ketika mengusir suaminya dari rumah yang mereka tempati.

Orang di luar sana yang melihat penampilan ibu, gaya hidupnya, dan caranya menghabiskan sisa umurnya, kadang kasihan atau ada juga yang berdecak kagum. Padahal mereka melihat segala sesuatu hanya dari permukaannya saja.
“Jangan dikira ibu bahagia dan baik-baik saja. Karena  yang namanya penyakit tetap saja datang menggerogoti dirinya. Bersyukurlah ibu walau ibu punya penyakit borongan tapi tidak pernah dianggap serius, karena baru mengeluh sedikit saja, semua anak-anaknya begitu perhatian dan langsung bisa mengatasinya dengan baik.

“ Diana besok ibu ditransfer uang ya…Gigi Mami bermasalah lagi, jadi harus rontgen sebelum dioperasi.” 
Pernah Ibu panik  karena hidungnya tersumbat dan merasa napasnya terganggu karena sinusitis yang yang diderita sejak lama. Intinya ibu jadi sangat manja dan selalu minta perhatian lebih dari anak-anaknya.

Jadi kupikir apa karena terlalu lama diduakan dan ada yang salah pada pola pikirnya ya,  sehingga ibu sukar mengendalikan diri. Nafsu belanjanya luar biasa dan sering mempermalukan pembantu di depan tamu, apalagi kalau tidak ada tamu akan lebih arogan lagi. 

“ Mbak jangan nanya ke Ibu lagi ya…!Pokoknya janji ya…! Pinta Ijah dengan wajah memelas.
“Ada apa sih Jah ? Belum juga tau masalahnya sudah dipesan wanti-wanti begini?” tanyaku penasaran.
“ Entah Ibu lupa atau sengaja, tiap bulan gaji saya dipotong 200 ribu, katanya dulu ibu saya punya hutang yang harus dicicil dan sampai saat ini belum lunas. Padahal saya ngga tau mbak urusannya sejak kapan,” kata Ijah pelan.

“Kamu kan bisa bilang Mas Bayu, yang tanggungjawab memberimu gaji tiap bulan Jah. Bilang aja sama dia pasti ngertilah. Sifat Ibu memang seperti itu," bujukku.
“Iya tapi kapan lunasnya? Biar jelas gitu Mbak. Ijah tau uang Ibu banyak tapi kalau yang untuk hak Ijah koq selalu dipersulit ya…!” ujarnya dengan wajah muram.
“Tenang Jah. Nanti kalau waktunya tepat dan Ibu agak santai, aku bilang ya masalah gajimu. Kasihan Ibu kalau memang dia salah dan sering mengambil hakmu. Besok semua perbuatan baik dan buruk itu ada catatannya.

“Ah ngga usah Mbak…! Saya takut ibu marah,” cegahnya.
“ Lah gimana, mau dibantu ngga?” tanyaku lagi.
Aku banyak belajar dari kejadian ini dan bisa kugunakan untuk menata hatiku, paling tidak mengertilah kalau hal seperti itu tidak baik. 

“Ternyata ada thoh! di dunia ini orang yang punya sifat zalim pada diri sendiri dan pada orang lain?” Ingatku kembali pada sikap ibu angkatku.
Kadang aku memikirkan nasib Ijah yang sudah mengabdi pada Ibu sekian puluh tahun sejak ia masih kanak-kanak. Si Ijah itu tidak pernah marah, maklum dia memang agak bodoh. (kalau pintar mana mungkin dia mau bertahan dan mengabdi sekian lama pada ibuku ).Sesekali kalau Ibu ngga ada dan aku datang maka Ijah punya kesempatan untuk curhat padaku.

“Ijah maafkan ibuku yaa!. Semoga kau mau melihat sisi kebaikan lain dari ibuku. Syukur-syukur dia insyaf sebelum ajal menjemput. Karena aku sangat prihatin dengan sifat jelek ibu. Andai saja dia ibu kandungku pasti akan kuberitahu bahwa punya sifat seperti itu tidak ada untungnya, alias tidak bermanfaat.” Semoga Ijah mau memaafkan ibuku.

Kalau kuingat lagi sejarah kehidupan ibu angkatku sungguh penuh perjuangan dan suka duka. Sifat keras kepala ibu bisa mengeluarkan bapak dari rumah. Sehingga Bapak menghabiskan hari tuanya bersama istri mudanya dan satu orang anaknya. Ibu tidak dicerai tapi hubungan mereka dalam membesarkan anak mereka selalu kompak. Jadi tidak heran bila keenam anak mereka sukses semua. Karena ibu bisa mengendalikan hatinya dan berjuang sekuat tenaga.

“Anakku harus sukses semua walau aku harus menggadaikan harga diriku pada saudaraku yang kaya dan mengabdi dengan segala perintahnya. Kangmas Ibu yang jadi menteri zaman orde baru ikut membantu kesuksesan anak-anak ibu.” Pada kesempatan lain ibu pernah menceritakan kehidupannya dalam membesarkan anak-anaknya padaku.

Ibu pandai menyimpan perasaan sebelum ia terserang darah tinggi. Ibu bisa menyulap perasaannya yang galau menjadi netral dalam keadaan kumpul keluarga atau dalam suasana di depan umum. Begitu juga untuk acara-acara keluarga bisa berjalan normal walau ditutupi dengan kepura-puraan. Demi menyenangkan hati anak, mantu dan cucu, Bapak dan ibu terlihat rukun dan damai di mata sanak saudara dan handai taulan.

Tiga tahun yang lalu Ibu dan bapak beserta keluarganya merayakan ulang tahun perkawinan beliau yang ke 50 tahun. Sebenarnya dalam hati geli juga sih. Jelas-jelas beliau tidak bisa rukun. Ibu juga hatinya sudah terlanjur luka. Meskipun saat ini beliau sudah sama-sama tua, tetap terlihat ada kecanggungan ketika harus duduk berdua di kursi pelaminan dan disalami oleh anak, mantu, cucu dan kerabat-kerabat lainnya yang diundang. Acara itu cukup meriah walau kesannya terlalu dipaksakan. Begitulah usaha anak yang ingin membahagiakan kedua orang tuanya.

Selang tiga bulan usai acara ulang tahun perkawinan emas beliau, Bapak mulai sakit-sakitan. Sebenarnya anak-anak menghendaki bapak mau kembali pada ibu dan dirawat di rumah sakit yang dekat dengan rumah ibu. Tapi Bapak kekeh tidak mau, mungkin gengsi atau dia menjaga perasaan istri mudanya. Ketika ibu melihat keadaan bapak yang makin hari makin tidak berdaya dan dokter juga sudah menyerah, ibu dengan membuang rasa gengsi mau menjenguk bapak dan meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan terhadap bapak.

“Maafkan aku ya Pak, selama ini aku keras kepala dan merasa benar. Padahal ini semua bukan hanya slahmu. Aku juga terlalu egois dan gengsiku cukup tinggi hingga aku biarkan kau lari dan memperistri sekretarismu itu.” Ibu sadar bahwa selama ini dia menjadi istri yang durhaka, mengusir bapak dari rumah, dan menguasai hampir semua harta yang beliau kumpulkan bersama.

Keadaan Bapak masih sadar ketika ibu datang dan meminta maaf. Bapak pun memaafkan ibu, karena bapak juga merasa bersalah, mungkin juga sudah tahu bahwa hidupnya tidak lama lagi.

“ Ibu, semua ini bagian dari kehidupan rumah tangga kita. Untuk apa disesali. Aku sudah memaafkanmu sejak dulu. Makanya aku rela kau perlakukan seperti ini. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan hidupku, aku titip anakku ya!” Bapak berkata pelan di hadapan ibu.

Tepat seminggu setelah ibu menjenguk bapak, Malaikat datang menjemput Bapak. Tiada yang bisa menghalangi. 
“Aku menyesal Pak, mengapa aku tidak memaafkanmu sejak dulu. Ketika kita mulai berbaikan dan saling menyadari kesalahan masing-masing, tapi Allah begitu cepat memanggilmu.” Ibu menangis sesegukan.

“ Ya Allah dulu Kau pernah mengujiku dengan membiarkan sikap zalimku kepada suamiku. Aku tega membuangmu jauh-jauh dari dalam hatiku sekaligus kehidupanku dan anak-anak. Aku tahu betapa menderitanya dirimu, tapi saat ini setelah Allah memanggilnya, bapak masuk lagi ke lubuk hatiku yang paling dalam. Ada apa ini? bisiknya.

Tidak ada lagi rasa jengkel, dendam, benci dan kemarahan terhadap ulah bapak yang dulu membuatnya begitu sakit hati. Yang diingat saat ini hanya kebaikan-kebaikan bapak. Kalau dulu bapak tidak berpangkat, mana mungkin ibu bisa jadi istri pejabat, kalau dulu karir bapak tidak cemerlang mana mungkin ibu bisa jalan-jalan keliling dunia, dan menunaikan ibadah haji, kalau dulu bapak tidak care sama anak-anak mana mungkin anak-anak bisa berhasil seperti sekarang ini. Kebaikan bapak ternyata banyak juga di hadapan ibu dan anak-anaknya.

Bapak memang manusia biasa, yang punya salah dan dosa, tapi cinta bapak pada anak dan keluarga memang luar biasa. Dia keluar dari rumah  karena tidak ingin ribut dengan ibu. Sedang tanggungjawabnya sebagai seorang bapak tetap dipenuhi. Aku tahu semua itu karena sejak umur enam tahun aku sudah jadi anak angkat beliau berdua. Paham betul akan sifat ibu dan bapak.

Sejak kepulangan bapak, ibu tidak searogan dulu lagi. Dia paling getol mengingat-ingat kapan peringatan empatpuluh hari  meninggalnya bapak, acaranya bagaimana, siapa yang diundang, masing-masing anak dan mantu diwajibkan hadir dan menyiapkan semuanya agar pelaksanaannya bisa berjalan dengan baik.
Begitulah sifat manusia. Ketika orang yang dianggap merugikannya masih hidup, yang ada hanya kebencian, dendam, iri dan dengki. Tapi ketika orang itu tidak ada justru kebaikannya yang terlihat, dan yang tersisa hanya penyesalan yang tiada berguna.

Ibu begitu sibuk menyiapkan peringatan 1000 hari wafatnya Bapak. Untuk kegiatan ini ibu melibatkan aku. Jauh hari sebelum hari H ibu sudah menyusun acara, menu, souvenier, dan parnak-pernik acara itu. Padahal masih sepuluh bulan lagi tapi sudah diingat-ingat terus. Semua anaknya sudah masuk daftar dan siap-siap dengan instruksi ibu dari mulai beli kambing, kijing, souvenir untuk kerabat, sembako untuk kaum duafa, dan tetek bengek lainnya. Pokoknya semua harus berperan aktif dan ibu maunya peringatan ini bisa berjalan dengan sukses.

“Ibu…, ibu tidak ingat apa, waktu ibu mencaci maki bapak, karena ketahuan bapak menikah lagi dan punya anak. Ibu bakar semua baju bapak, dan ibu usir bapak dari rumah.” Mas Alif mengingatkan kelakuan ibu waktu marah besar kepada Bapak.

Maklum waktu itu ibu memang murka luar biasa ibu malu, kecewa, dan merasa dikhianati. Tapi dengan berlalunya waktu dan menjalani proses pengendapan alias cooling down, hati itu bisa jernih dan bisa menerima bapak dengan segala kekurangannya. Terutama menjelang sakratul maut menjemput bapak.
Kuhargai semua jerih payah ibu, untuk melupakan kepahitan cintanya karena dikhianati bapak. Kusesali kompensasi ibu yang berlebihan dengan melepas bebas hawa nafsu belanjanya, yang tidak ingat, usia, asas manfaat, dan pola hidup sederhana, selalu saja lapar mata, selalu saja termakan iklan, selalu saja ingin memiliki apa yang belum pernah dimiliki, padahal semuanya berorientasi hanya pada dunia. Nafsu untuk memiliki segala sesuatu yang branded masih saja lekat.

“Apa dia kira usianya akan mencapai seratus tahun? Dan masih bisa menikmati barang-barang tersebut? Aku kadang mengelus dada jika teringat kelakuan ibu.
Kalau dipikir dan dikaji sebenarnya ibu aktif ikut pengajian, tapi maaf maaf ya yang bisa diterima ibu baru sedikit sekali yang bisa diamalkan. Karena ibu mengamalkannya masih pilih-pilih. Ayat yang ini cocok untukku, kalau ayat yang keras melarang untuk dikerjakan, ibu masih mengelak. Contohnya ibu masih percaya dengan dukun, atau para normal. Alasan ibu itu salah satu dari ikhtiar untuk mencari kesembuhan. Padahal pengobatan yang diberikan sagat tidak nalar. Cukup hanya air mineral yang sudah di isi dengan wiridan bisa mengobati penyakit, dan juga memecahkan berbagai masalah.
Masih saja kepikiran di benakku.

 “Mengapa nafsu belanja itu menguntit ibu terus? Ibu seharusnya bisa mengekang hawa nafsunya yang berlebihan, agar tidak jadi orang yang boros dan jadi temannya setan. Ingin sekali aku mengerem nafsu belanja ibuku, dengan mengatakan” Lebih baik uang itu disodaqohkan dari pada untuk beli tas”. Tapi aku tak punya hak .

“Siapa aku ini, koq berani-beraninya  memberi saran seperti itu. Memangnya aku tahu kalau ibu dalam bersodaqoh kurang? ‘ Hati kecilku selal mengingatkan.
Kalau mulutnya yang nyinyir terhadap pembantu, sebenarnya aku juga risih mendengarnya. Apalagi si Ijah sering curhat sama aku. Aku bisanya cuma menenangkan hati Ijah

.” Maafkan ibu Jah, di mata Allah kamu manusia paling mulia, kalau kamu mau memaafkan ibu, dan mendoakan agar beliau cepat sadar dan tidak selalu memarahi dirimu. Maklumi saja sifatnya, kamu juga jangan ngeyel. Pokoke enggih enggih mengko ra’ kepanggih he he he.” Selalu aku menghiburnya.

“Wadoh, aku jadi takut dan was-was,usia ibu hampir kepala delapan, kalau sewaktu-waktu malaikat menjemput  ibu belum nyadar, dan minta maaf sama si Ijah gimana?Kalau si Ijah selalu memaafkannya tanpa diminta, Kalau si Ijah ikhlas dan ridha dengan segala ucapan ibu yang menyakitkan., kalau tidak ciloko Ibu. Dan yang paling mengerikan bila tiba-tiba semua nikmat yang ibu dapat dari Allah dicabut, misalnya terserang stroke gitu, terus mulutnya mencong alias merot, apa dia masih bisa memarahi si Ijah karena lamban melayaninya, atau mengerjakan yang tidak pas dengan perintahnya. Belum lagi kalau sekonyong-konyong koder tidak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya, apa dia masih bersemangat ngajak aku hunting barang-barang merk yang sedang didiscont?” Mulai lagi aku berhalusinasi dengan pikiran kotorku.

“Weleh, weleh. Ternyata semua nikmat yang kita miliki bisa musnah seketika tanpa izin sebelumnya pada kita. Kita wajib bertobat setiap saat untuk dosa-dosa yang kita perbuat,baik yang disengajaja maupun yang tidak kita sadari. Sebab seringkali maksud dan niat kita baik, tapi bisa diterima tidak baik oleh orang yang merasa kurang pas untuk ukuran dia, atau kurang tepat waktu kita menyampaikannya.” Terus aja aku menelaah persoalan ini.

Aku berharap, ibu bisa berubah sedikit demi sedikit, dengan pedoman tidak ada kata terlambat, untuk bertobat. Aku berkewajiban mengubah mindsetnya agar tidak mengedepankan nafsu belanjanya., sifat terburu-buru alias kemrungsung, sifat arogannya pada pembantu, dan ketergantungannya pada paranormal.Aku kewatir ketika  ibu “ dijemput”dia belum sempat bertobat.

“Hidayah tidak akan datang bila tidak diusahakan dan bila Allah tidak menghendaki.” Kalimat itu pernah aku dengar dari seorang Ustadzah yang sedang memberi pencerahan.
Sebelum ibu pergi untuk selamanya aku sempat berbagi dan aku  lebih sering mengajak ibu ngudar roso dalam hal-hal yang menjurus pada kebaikan dan bercerita tentang orang-orang yang mendapat hidayah dari bacaan-bacaan yang pernah kubaca. Terutama yang kupakai untuk acuan dalam bercerita adalah dari buku “Riyadhus sholihin.” Kegiatan ini paling tidak bisa meminimalisir sifat ibu yang hobbynya hunting barang mewah, arogan dengan orang dan lebih percaya klenik dari pada Qur’an dan Hadist.
Selamat jalan ibu sayang, walau kau bukan ibu kandungku, tapi kau wanita hebat yang mewarnai hidupku. Bagiku kau wanita yang dikirim Allah agar aku sadar bahwa drunia penuh dengan kebaikan dan kemaksiatan. Pelajarilah dan jangan sampai ikut arus yang merugikan diri sendiri.

Bagian dari buku "The Stories of Wonder Women" By Sri Sugiastuti