Rabu, 03 Juli 2024

Menguak Tabir Penyakit Hati dan Solusinya dalam Islam


Menguak Tabir Penyakit Hati dan Solusinya dalam Islam

Oleh: Sri Sugiastuti 

“Ketahuilah, di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, baiklah tubuh seluruhnya, dan apabila daging itu rusak, rusaklah tubuh seluruhnya. Ketahuilah olehmu, bahwa segumpal daging itu adalah kalbu [hati].” (HR. Bukhari).

Di dalam diri manusia, terdapat organ yang tak kalah pentingnya dengan organ fisik lainnya, yaitu hati. Bukan hanya berperan dalam metabolisme tubuh, hati dalam perspektif Islam juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Dalam Islam, hati sering diidentikkan dengan sifat-sifat batiniah manusia, yang menjadi sumber segala perbuatan dan akhlak.

Hati yang sehat bagaikan taman yang subur, menumbuhkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Sebaliknya, hati yang sakit bagaikan lahan tandus, ditumbuhi sifat-sifat tercela yang dapat menyeret manusia ke jurang kemaksiatan.

Memahami Penyakit Hati

Penyakit hati, dalam Islam, merujuk pada berbagai sifat tercela yang bersarang di dalam hati. Sifat-sifat ini dapat menggerogoti keimanan dan akhlak seseorang, menjerumuskannya ke dalam dosa dan maksiat. 

Ada 10 penyakit hati yang harus kita waspadai.

1. Riya’
Riya’ adalah sifat yang ketika seseorang melakukan sesuatu selalu diungkit-ungkit dan ingin dipuji. Riya ini juga dapat menghilangkan pahala karena seseorang yang beramal bukan atas dasar karena Allah Swt.

2. Sombong
Bahaya orang-orang yang sombong ada pada Al-Qur’an surah Luqman ayat 18, “Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri." (Q.S Luqman: 18).

3. Ghibah
Larangan menggunjing ada dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 12, “Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha penyayang."(QS. Al-Hujurat: 12).

4. Ghadab (Pemarah)
Sifat ini memang tabiat manusia, akan tetapi jika tidak bisa mengendalikannya, seseorang akan lebih mudah melakukan perbuatan buruk. Ketika marah, seseorang juga akan sulit berpikir jernih. Maka dari itu, ada nasihat yang mengatakan jangan memutuskan sesuatu saat sedang marah. Amarah itu datangnya dari setan, maka berlindunglah kepada Allah Swt.

5. Munafik
Munafik adalah mereka yang mengaku beriman tetapi dalam hatinya terdapat kekufuran. Bahaya munafik terdapat dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 138, “Sampaikanlah berita gembira sebagai ejekan dan kecaman kepada orang-orang munafik, wahai nabi Muhammad, bahwa bagi mereka di akhirat kelak siksaan yang pedih, dan bahkan mereka akan berada pada tingkat yang paling rendah, buruk, dan berat dari neraka Jahanam sebagai balasan dari perbuatan mereka.” (Q.S An-Nisa: 138).

6. Dengki
Salah satu penyakit hati yang juga harus disembuhkan yaitu iri dengki. memiliki sifat iri dengki juga dapat menghilangkan pahala kebaikan. Sebagaimana dalam hadis riwayat Abu Daud, “Waspadalah terhadap hasad, sesungguhnya hasad mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu.” (HR. Abu Daud).

7. Kikir
Bahaya kikir terdapat dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 180, “Sekali-kali janganlah orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allahlah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran : 180).

8. Rakus
Orang yang memiliki penyakit hati ini tidak akan puas dengan hidupnya. Orang yang memiliki sifat ini akan terus memuaskan dirinya dengan sifat-sifat duniawi.

9. Ananiah
Salah satu penyakit hati yang juga patut diwaspadai dan disembuhkan yaitu sifat ananiah atau egois (mementingkan diri sendiri). Sifat seperti ini akan menghancurkan dirinya dan akan jauh dari rahmat Allah.

10. Namimah
Namimah atau adu domba, salah satu kegiatan yang dibenci Rasulullah. Dalil tentang namimah ada pada Al-Qur’an surah Al-Qalam, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.” (QS Al-Qalam:10-12).

Pengobatan Penyakit Hati dalam Islam

Islam menawarkan berbagai solusi untuk mengobati penyakit hati. Pengobatan ini tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga mencakup dimensi fisik dan sosial. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengobati penyakit hati:

1.Memperbanyak Muhasabah: Melakukan introspeksi diri untuk menyadari kekurangan dan kesalahan yang telah dilakukan.

2.Memperbanyak Istighfar: Meminta ampunan kepada Allah SWT atas dosa-dosa yang telah diperbuat.

3.Memperbanyak Dzikrullah: Mengingat Allah SWT dengan menyebut asma-Nya dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an.

4.Memperbanyak Doa: Memohon kepada Allah SWT untuk diberikan hati yang bersih dan terhindar dari penyakit hati.

5.Membaca Al-Qur'an dan Tadabbur:
Membaca Al-Qur'an dengan penuh pemahaman dan merenungkan maknanya.

6. Menjalani Ibadah dengan Khusyuk:Melaksanakan ibadah dengan sepenuh hati dan penuh kesadaran.

7.Mencontoh Akhlak Rasulullah SAW: Mengikuti akhlak mulia Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

8. Bergaul dengan Orang-Orang Saleh:
Menjalin pertemanan dengan orang-orang yang beriman dan bertakwa.

9.Menjauhi Pergaulan yang Buruk: Menghindari lingkungan yang dapat membawa kepada perbuatan dosa dan maksiat.

10.Menyibukkan Diri dengan Hal-Hal Positif: 
Mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat dan bernilai ibadah.

11.Bersedekah: 
Memberikan sebagian harta benda untuk membantu orang lain yang membutuhkan.

12.Berpuasa: Melatih diri untuk menahan diri dari hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

13. Melakukan Haji atau Umrah: Menjalankan ibadah haji atau umrah untuk membersihkan hati dan jiwa dari dosa-dosa.

Menjaga kesehatan hati merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Dengan mengobati penyakit hati, kita dapat meningkatkan kualitas keimanan dan akhlak, serta meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Ingatlah bahwa hati yang sehat adalah kunci menuju kehidupan yang penuh keberkahan dan kebahagiaan. Semoga kita terhindar dari penyakit hati yang sangat berbahaya dan merugikan kehidupan di dunia dan di akhirat.

Sumber : 
[https://uin-malang.ac.id/](https://uin-malang.ac.id/) [https://www.um-surabaya.ac.id/article/dosen-fai-um-surabaya-paparkan-jenis-penyakit-hati-dalam-islam-yang-perlu-diwaspadai](https://www.um-surabaya.ac.id/article/dosen-fai-um-surabaya-paparkan-jenis-penyakit-hati-dalam-islam-yang-perlu-diwaspadai) [https://www.nu.or.id/tasawuf-akhlak/macam-macam-penyakit-hati-dan-badan-UQIUu](https://www.nu.or.id/tasawuf-akhlak/macam-macam-penyakit-hati-dan-badan-UQIUu)

Soloraya, 03 07 2024

Selasa, 02 Juli 2024

10 Cara Efektif Belajar Diksi di Dunia Kepenulisan


10 Cara Efektif Belajar Diksi di Dunia Kepenulisan

Oleh: Sri Sugiastuti

Belajar menjadi seorang Penulis perlu proses. Salah satunya menguasai Diksi, atau pilihan kata, yang merupakan salah satu elemen penting dalam dunia kepenulisan. Penggunaan diksi yang tepat dapat membantu penulis menyampaikan ide dan gagasannya dengan lebih jelas, efektif, dan menarik bagi pembaca. Oleh karena itu, bagi para penulis, menguasai diksi menjadi sebuah keharusan.

Ada 10  cara efektif untuk belajar diksi di dunia kepenulisan:

1. Rajin Membaca  Buku.
Satu cara terbaik untuk belajar diksi adalah dengan banyak membaca buku yang disukai dan berkualitas. Dengan membaca, kita berkesempatan belajar memilih  berbagai macam pilihan kata yang digunakan oleh penulis-penulis andal. Hal ini sangat membantu memperkaya kosakata dan meningkatkan pemahaman  tentang penggunaan diksi yang tepat.

2. Memperbanyak Kosakata

Semakin banyak kosakata yang dimiliki, semakin banyak pilihan kata yang dapat digunakan dalam tulisan. Kita dapat memperbanyak kosakata dengan membaca kamus, tesaurus, dan buku-buku yang membahas tentang bahasa. Menambah kosakata bisa belajar kata-kata baru dari percakapan sehari-hari atau dengan menonton film dan acara televisi.

3. Berlatih Menulis

Semakin banyak berlatih menulis, semakin banyak jam terbang menulis maka semakin terbiasa ketika memilih kata-kata yang tepat. Cobalah menulis cerita pendek, puisi, artikel, atau blog. Disarankan juga bisa mengikuti komunitas menulis online atau offline untuk mendapatkan masukan dari penulis lain.

4. Memperhatikan Makna Kata

Dalam tulisan banyak kata yang sama tetapi beda Sartinya atau Maknanya. Dan Setiap kata memiliki makna yang berbeda-beda. Perlu berlatih menulis banyak kalimat dengan memperhatikan Makna kalimat yang ditulis. Pastikan dapat memahami makna kata yang  digunakan sebelum memasukkannya ke dalam tulisan . Salah satu caranya dengan mencari informasi tentang makna kata di kamus atau online.

5. Memperhatikan Konteks

Makna kata juga dapat berbeda-beda tergantung pada konteks penggunaannya. Pastikan memilih kata yang sesuai dengan konteks kalimat atau paragraf yang ditulis. Dengan memperhatikan Konteks maka diksi yang dikuasai semakin bervariasi, sehingga tulisan yang disajikan semakin diminati atau dirindukan.

6. Rajin Membuka Kamus dan Tesaurus

Kamus dan tesaurus dapat membantu penulis menemukan kata yang tepat untuk digunakan dalam tulisan sebuah tulisan. Kamus dapat memberikandan membantu memberikan definisi kata, sedangkan tesaurus dapat memberikan bermacam sinonim dan antonim kata yang akan memperkaya sekaligus mewarnai tulisan kita.

7. Berkonsultasi atau Berkolaborasi dengan Penulis Lain

Jika merasa kesulitan dalam memilih kata yang tepat, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan penulis lain. Penulis lain dapat memberikan masukan dan saran tentang penggunaan diksi yang tepat dalam tulisan yangbakan dibuat.Dengan berkonsultasi penulis merasa lebih percaya diri untuk menuntaskan tulisannya.

8. Mengikuti Kelas Menulis

Ada banyak kelas menulis yang tersedia, baik online maupun offline. Baik gratis maupun berbayar. Kelas Belajar ini dapat membantu Penulis Pemula mempelajari diksi dan aspek-aspek lain dari penulisan yang baik.

9. Membaca Ulang atau Mengendapkan Tulisan.

Setelah selesai ditulis, bacalah kembali tulisan tersebut dengan seksama. Perhatikan penggunaan diksi juga pastikan telah memilih kata yang tepat. Penulis juga bisa meminta orang lain untuk membaca tulisan tersebut dan diminta untuk memberikan masukan.

10. Terus Menulis

Belajar diksi adalah proses yang berkelanjutan. Semakin banyak  belajar, semakin baik penguasaan terhadap diksi. Teruslah membaca, menulis, dan berlatih untuk meningkatkan kemampuan dalam memilih kata yang tepat.

Dengan mengikuti 10b tips-tips di atas, maka belajar diksi dengan lebih efektif akan meningkatkan kualitas tulisan. Ingatlah bahwa diksi adalah salah satu elemen penting dalam dunia kepenulisan, dan menguasai diksi dapat membantu Penulis menjadi penulis yang lebih baik.

Bagaimana dengan tulisan pembaca hari ini?

Soloraya, 02 07 2024

Senin, 10 Juni 2024

Di Balik Tajamnya Lidah

                                                         Sumber Gambar Doc pri. Dwi Rukmi Endang
Di Balik Tajamnya Lidah

Oleh: Sri Sugiastuti 
                                                     
“Yaitu orang-orang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan dengan kezaliman, bagi mereka diberikan rasa aman dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk Allah.”(Q.S. al An’am:82)

Seperti biasa sepulang sekolah aku sempatkan mampir ke rumah ibu angkatku, untuk sekedar say hello, dan melihat keadaannya apa dia baik-baik saja. Biasanya aku langsung berwudhu dan sholat dzuhur. Selesai sholat, kalau kebetulan ada sesuatu yang bisa dimakan, ya kami makan bersama. Ijah pembantu ibuku yang  biasanya menyiapkan makan siang kami. 

Belum jua aku mengambil nasi yang ada di magic jar, suara Ibuku sudah mengagetkanku.
“Jah koq sayur ibu asin banget sih, kamu pengen kawin ya! Dasar perawan tua, sudah dikandhani bola-bali koq yo dibaleni!”Astaghfirulllahalaazim.”  Ibu marah besar hanya karena sayur yang dibuat si Ijah keasinan.

Ibu masih saja berkata kasar sama Ijah, mentang-mentang si Ijah sudah mengabdi pada keluarganya lebih dari 30 tahun. Aku malu mendengar perkataan itu. Tapi begitulah sifat jelek ibu. Selera makanku jadi hilang.

“Mbak , nanti aku diantar ke Solo Square ya, banyak barang discount besar-besaran di sana, kemarin sudah ada tas yang ku incar, tapi ketika mau beli aku sungkan sama mantuku!” Selesai makan  ibu mengajakku untuk menemaninya membeli tas yang diinginkan,

“Ya Allah Bu, Bukannya tas ibu sudah banyak dan masih bagus-bagus pula…!” Kataku mencegah dengan halus keinginannya
“Tapi mbak, yang berwarna ungu tua seperti baju yang baru diambil dari tukang jahit itu belum ada stelan tasnya, " jawab Ibu memberi alasan.
.” Kalau untuk setelan  baju baru itu, memang belum ada, tapi apa ya harus setiap baju baru dibelikan tas baru juga,” kataku dalam hati.

”Oke lah Bu besok ya aku antar, kalau siang ini aku masih ada urusan lain,” jawabku sedikit merayu.
Sampai rumah ketika aku leyeh-leyeh merebahkan badanku di atas tempat tidur, pikiranku melayang pada ajakan ibu angkatku tadi siang. Aku ngajak bicara hatiku.

“Ibu itu usianya sudah 79 tahun, tapi nafsu belanjanya koq masih besar ya? Apa masih pantas orang seusia dia mengoleksi barang-barang yang konsumtif seperti itu? Kepuasan apa ya yang didapat ketika bisa beli barang-barang bermerek seperti itu? Bukannya barang itu nantinya akan jadi rebutan anak-anaknya? Lah wong kemarin saja anak putrinya yang sulung sudah nembung  tas merah yang dulu dia beli di Italy. Lalu anaknya yang putri lainnya ngiri. “Secara terus terang Tika si bungsu juga ingin memiliki barang koleksi ibunya.
“Mami kalau mbak Rina yang minta tasnya dikasih, aku minta juga dong Mam!”  Ya ibu pernah cerita tentang anak-anaknya yang menginginkan barang milik ibunya.

Dahlia, nama ibu angkatku memang hidup berkecukupan, suaminya pensiunan pejabat. Anaknya juga jadi orang semua. Maksudte sukses gitu lohhh. Depositonya banyak. Semua keluh kesahnya ada yang nampung. Ingin baju model terkini pun tidak masalah, ingin makan enak di restro yang paling mahal pun oke-oke saja.
“Apa karena dia merasa selalu ada ya?. Sehingga pola pikir untuk belanja dari mulai jadi ibu muda sampai sekarang sudah oma-oma masih nafsu saja kalau ada barang bermerek yang didiscount.0 Padahal jatuhnya mahal-mahal juga,” Itu menurutku.

Sebenarnya satu-dua anaknya sih ada yang protes atas sifat ibu yang belum bisa berubah sejak  dulu. Dia memang terkenal arogan, nyinyir, dan keras hati. Maka tidak heran bila akhirnya suami ibu  lari darinya dan menikahi sekretaris yang ada di salah satu perusahaan yang dimilikinya. Ibu bisa bertahan walau diduakan karena dia tidak terlalu ngurus pada suami. Yang penting kebutuhan materi anak-anak dan dirinya terpenuhi. 

“Silakan keluar dari kehidupanku Mas. Aku sudah tidak sudi kau sentuh lagi…! Tabu bagiku bermesraaan dengan orang yang sudah menzalimiku.” Dulu ibu pernah menceritakan kemarahannya ketika mengusir suaminya dari rumah yang mereka tempati.

Orang di luar sana yang melihat penampilan ibu, gaya hidupnya, dan caranya menghabiskan sisa umurnya, kadang kasihan atau ada juga yang berdecak kagum. Padahal mereka melihat segala sesuatu hanya dari permukaannya saja.
“Jangan dikira ibu bahagia dan baik-baik saja. Karena  yang namanya penyakit tetap saja datang menggerogoti dirinya. Bersyukurlah ibu walau ibu punya penyakit borongan tapi tidak pernah dianggap serius, karena baru mengeluh sedikit saja, semua anak-anaknya begitu perhatian dan langsung bisa mengatasinya dengan baik.

“ Diana besok ibu ditransfer uang ya…Gigi Mami bermasalah lagi, jadi harus rontgen sebelum dioperasi.” 
Pernah Ibu panik  karena hidungnya tersumbat dan merasa napasnya terganggu karena sinusitis yang yang diderita sejak lama. Intinya ibu jadi sangat manja dan selalu minta perhatian lebih dari anak-anaknya.

Jadi kupikir apa karena terlalu lama diduakan dan ada yang salah pada pola pikirnya ya,  sehingga ibu sukar mengendalikan diri. Nafsu belanjanya luar biasa dan sering mempermalukan pembantu di depan tamu, apalagi kalau tidak ada tamu akan lebih arogan lagi. 

“ Mbak jangan nanya ke Ibu lagi ya…!Pokoknya janji ya…! Pinta Ijah dengan wajah memelas.
“Ada apa sih Jah ? Belum juga tau masalahnya sudah dipesan wanti-wanti begini?” tanyaku penasaran.
“ Entah Ibu lupa atau sengaja, tiap bulan gaji saya dipotong 200 ribu, katanya dulu ibu saya punya hutang yang harus dicicil dan sampai saat ini belum lunas. Padahal saya ngga tau mbak urusannya sejak kapan,” kata Ijah pelan.

“Kamu kan bisa bilang Mas Bayu, yang tanggungjawab memberimu gaji tiap bulan Jah. Bilang aja sama dia pasti ngertilah. Sifat Ibu memang seperti itu," bujukku.
“Iya tapi kapan lunasnya? Biar jelas gitu Mbak. Ijah tau uang Ibu banyak tapi kalau yang untuk hak Ijah koq selalu dipersulit ya…!” ujarnya dengan wajah muram.
“Tenang Jah. Nanti kalau waktunya tepat dan Ibu agak santai, aku bilang ya masalah gajimu. Kasihan Ibu kalau memang dia salah dan sering mengambil hakmu. Besok semua perbuatan baik dan buruk itu ada catatannya.

“Ah ngga usah Mbak…! Saya takut ibu marah,” cegahnya.
“ Lah gimana, mau dibantu ngga?” tanyaku lagi.
Aku banyak belajar dari kejadian ini dan bisa kugunakan untuk menata hatiku, paling tidak mengertilah kalau hal seperti itu tidak baik. 

“Ternyata ada thoh! di dunia ini orang yang punya sifat zalim pada diri sendiri dan pada orang lain?” Ingatku kembali pada sikap ibu angkatku.
Kadang aku memikirkan nasib Ijah yang sudah mengabdi pada Ibu sekian puluh tahun sejak ia masih kanak-kanak. Si Ijah itu tidak pernah marah, maklum dia memang agak bodoh. (kalau pintar mana mungkin dia mau bertahan dan mengabdi sekian lama pada ibuku ).Sesekali kalau Ibu ngga ada dan aku datang maka Ijah punya kesempatan untuk curhat padaku.

“Ijah maafkan ibuku yaa!. Semoga kau mau melihat sisi kebaikan lain dari ibuku. Syukur-syukur dia insyaf sebelum ajal menjemput. Karena aku sangat prihatin dengan sifat jelek ibu. Andai saja dia ibu kandungku pasti akan kuberitahu bahwa punya sifat seperti itu tidak ada untungnya, alias tidak bermanfaat.” Semoga Ijah mau memaafkan ibuku.

Kalau kuingat lagi sejarah kehidupan ibu angkatku sungguh penuh perjuangan dan suka duka. Sifat keras kepala ibu bisa mengeluarkan bapak dari rumah. Sehingga Bapak menghabiskan hari tuanya bersama istri mudanya dan satu orang anaknya. Ibu tidak dicerai tapi hubungan mereka dalam membesarkan anak mereka selalu kompak. Jadi tidak heran bila keenam anak mereka sukses semua. Karena ibu bisa mengendalikan hatinya dan berjuang sekuat tenaga.

“Anakku harus sukses semua walau aku harus menggadaikan harga diriku pada saudaraku yang kaya dan mengabdi dengan segala perintahnya. Kangmas Ibu yang jadi menteri zaman orde baru ikut membantu kesuksesan anak-anak ibu.” Pada kesempatan lain ibu pernah menceritakan kehidupannya dalam membesarkan anak-anaknya padaku.

Ibu pandai menyimpan perasaan sebelum ia terserang darah tinggi. Ibu bisa menyulap perasaannya yang galau menjadi netral dalam keadaan kumpul keluarga atau dalam suasana di depan umum. Begitu juga untuk acara-acara keluarga bisa berjalan normal walau ditutupi dengan kepura-puraan. Demi menyenangkan hati anak, mantu dan cucu, Bapak dan ibu terlihat rukun dan damai di mata sanak saudara dan handai taulan.

Tiga tahun yang lalu Ibu dan bapak beserta keluarganya merayakan ulang tahun perkawinan beliau yang ke 50 tahun. Sebenarnya dalam hati geli juga sih. Jelas-jelas beliau tidak bisa rukun. Ibu juga hatinya sudah terlanjur luka. Meskipun saat ini beliau sudah sama-sama tua, tetap terlihat ada kecanggungan ketika harus duduk berdua di kursi pelaminan dan disalami oleh anak, mantu, cucu dan kerabat-kerabat lainnya yang diundang. Acara itu cukup meriah walau kesannya terlalu dipaksakan. Begitulah usaha anak yang ingin membahagiakan kedua orang tuanya.

Selang tiga bulan usai acara ulang tahun perkawinan emas beliau, Bapak mulai sakit-sakitan. Sebenarnya anak-anak menghendaki bapak mau kembali pada ibu dan dirawat di rumah sakit yang dekat dengan rumah ibu. Tapi Bapak kekeh tidak mau, mungkin gengsi atau dia menjaga perasaan istri mudanya. Ketika ibu melihat keadaan bapak yang makin hari makin tidak berdaya dan dokter juga sudah menyerah, ibu dengan membuang rasa gengsi mau menjenguk bapak dan meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan terhadap bapak.

“Maafkan aku ya Pak, selama ini aku keras kepala dan merasa benar. Padahal ini semua bukan hanya slahmu. Aku juga terlalu egois dan gengsiku cukup tinggi hingga aku biarkan kau lari dan memperistri sekretarismu itu.” Ibu sadar bahwa selama ini dia menjadi istri yang durhaka, mengusir bapak dari rumah, dan menguasai hampir semua harta yang beliau kumpulkan bersama.

Keadaan Bapak masih sadar ketika ibu datang dan meminta maaf. Bapak pun memaafkan ibu, karena bapak juga merasa bersalah, mungkin juga sudah tahu bahwa hidupnya tidak lama lagi.

“ Ibu, semua ini bagian dari kehidupan rumah tangga kita. Untuk apa disesali. Aku sudah memaafkanmu sejak dulu. Makanya aku rela kau perlakukan seperti ini. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan hidupku, aku titip anakku ya!” Bapak berkata pelan di hadapan ibu.

Tepat seminggu setelah ibu menjenguk bapak, Malaikat datang menjemput Bapak. Tiada yang bisa menghalangi. 
“Aku menyesal Pak, mengapa aku tidak memaafkanmu sejak dulu. Ketika kita mulai berbaikan dan saling menyadari kesalahan masing-masing, tapi Allah begitu cepat memanggilmu.” Ibu menangis sesegukan.

“ Ya Allah dulu Kau pernah mengujiku dengan membiarkan sikap zalimku kepada suamiku. Aku tega membuangmu jauh-jauh dari dalam hatiku sekaligus kehidupanku dan anak-anak. Aku tahu betapa menderitanya dirimu, tapi saat ini setelah Allah memanggilnya, bapak masuk lagi ke lubuk hatiku yang paling dalam. Ada apa ini? bisiknya.

Tidak ada lagi rasa jengkel, dendam, benci dan kemarahan terhadap ulah bapak yang dulu membuatnya begitu sakit hati. Yang diingat saat ini hanya kebaikan-kebaikan bapak. Kalau dulu bapak tidak berpangkat, mana mungkin ibu bisa jadi istri pejabat, kalau dulu karir bapak tidak cemerlang mana mungkin ibu bisa jalan-jalan keliling dunia, dan menunaikan ibadah haji, kalau dulu bapak tidak care sama anak-anak mana mungkin anak-anak bisa berhasil seperti sekarang ini. Kebaikan bapak ternyata banyak juga di hadapan ibu dan anak-anaknya.

Bapak memang manusia biasa, yang punya salah dan dosa, tapi cinta bapak pada anak dan keluarga memang luar biasa. Dia keluar dari rumah  karena tidak ingin ribut dengan ibu. Sedang tanggungjawabnya sebagai seorang bapak tetap dipenuhi. Aku tahu semua itu karena sejak umur enam tahun aku sudah jadi anak angkat beliau berdua. Paham betul akan sifat ibu dan bapak.

Sejak kepulangan bapak, ibu tidak searogan dulu lagi. Dia paling getol mengingat-ingat kapan peringatan empatpuluh hari  meninggalnya bapak, acaranya bagaimana, siapa yang diundang, masing-masing anak dan mantu diwajibkan hadir dan menyiapkan semuanya agar pelaksanaannya bisa berjalan dengan baik.
Begitulah sifat manusia. Ketika orang yang dianggap merugikannya masih hidup, yang ada hanya kebencian, dendam, iri dan dengki. Tapi ketika orang itu tidak ada justru kebaikannya yang terlihat, dan yang tersisa hanya penyesalan yang tiada berguna.

Ibu begitu sibuk menyiapkan peringatan 1000 hari wafatnya Bapak. Untuk kegiatan ini ibu melibatkan aku. Jauh hari sebelum hari H ibu sudah menyusun acara, menu, souvenier, dan parnak-pernik acara itu. Padahal masih sepuluh bulan lagi tapi sudah diingat-ingat terus. Semua anaknya sudah masuk daftar dan siap-siap dengan instruksi ibu dari mulai beli kambing, kijing, souvenir untuk kerabat, sembako untuk kaum duafa, dan tetek bengek lainnya. Pokoknya semua harus berperan aktif dan ibu maunya peringatan ini bisa berjalan dengan sukses.

“Ibu…, ibu tidak ingat apa, waktu ibu mencaci maki bapak, karena ketahuan bapak menikah lagi dan punya anak. Ibu bakar semua baju bapak, dan ibu usir bapak dari rumah.” Mas Alif mengingatkan kelakuan ibu waktu marah besar kepada Bapak.

Maklum waktu itu ibu memang murka luar biasa ibu malu, kecewa, dan merasa dikhianati. Tapi dengan berlalunya waktu dan menjalani proses pengendapan alias cooling down, hati itu bisa jernih dan bisa menerima bapak dengan segala kekurangannya. Terutama menjelang sakratul maut menjemput bapak.
Kuhargai semua jerih payah ibu, untuk melupakan kepahitan cintanya karena dikhianati bapak. Kusesali kompensasi ibu yang berlebihan dengan melepas bebas hawa nafsu belanjanya, yang tidak ingat, usia, asas manfaat, dan pola hidup sederhana, selalu saja lapar mata, selalu saja termakan iklan, selalu saja ingin memiliki apa yang belum pernah dimiliki, padahal semuanya berorientasi hanya pada dunia. Nafsu untuk memiliki segala sesuatu yang branded masih saja lekat.

“Apa dia kira usianya akan mencapai seratus tahun? Dan masih bisa menikmati barang-barang tersebut? Aku kadang mengelus dada jika teringat kelakuan ibu.
Kalau dipikir dan dikaji sebenarnya ibu aktif ikut pengajian, tapi maaf maaf ya yang bisa diterima ibu baru sedikit sekali yang bisa diamalkan. Karena ibu mengamalkannya masih pilih-pilih. Ayat yang ini cocok untukku, kalau ayat yang keras melarang untuk dikerjakan, ibu masih mengelak. Contohnya ibu masih percaya dengan dukun, atau para normal. Alasan ibu itu salah satu dari ikhtiar untuk mencari kesembuhan. Padahal pengobatan yang diberikan sagat tidak nalar. Cukup hanya air mineral yang sudah di isi dengan wiridan bisa mengobati penyakit, dan juga memecahkan berbagai masalah.
Masih saja kepikiran di benakku.

 “Mengapa nafsu belanja itu menguntit ibu terus? Ibu seharusnya bisa mengekang hawa nafsunya yang berlebihan, agar tidak jadi orang yang boros dan jadi temannya setan. Ingin sekali aku mengerem nafsu belanja ibuku, dengan mengatakan” Lebih baik uang itu disodaqohkan dari pada untuk beli tas”. Tapi aku tak punya hak .

“Siapa aku ini, koq berani-beraninya  memberi saran seperti itu. Memangnya aku tahu kalau ibu dalam bersodaqoh kurang? ‘ Hati kecilku selal mengingatkan.
Kalau mulutnya yang nyinyir terhadap pembantu, sebenarnya aku juga risih mendengarnya. Apalagi si Ijah sering curhat sama aku. Aku bisanya cuma menenangkan hati Ijah

.” Maafkan ibu Jah, di mata Allah kamu manusia paling mulia, kalau kamu mau memaafkan ibu, dan mendoakan agar beliau cepat sadar dan tidak selalu memarahi dirimu. Maklumi saja sifatnya, kamu juga jangan ngeyel. Pokoke enggih enggih mengko ra’ kepanggih he he he.” Selalu aku menghiburnya.

“Wadoh, aku jadi takut dan was-was,usia ibu hampir kepala delapan, kalau sewaktu-waktu malaikat menjemput  ibu belum nyadar, dan minta maaf sama si Ijah gimana?Kalau si Ijah selalu memaafkannya tanpa diminta, Kalau si Ijah ikhlas dan ridha dengan segala ucapan ibu yang menyakitkan., kalau tidak ciloko Ibu. Dan yang paling mengerikan bila tiba-tiba semua nikmat yang ibu dapat dari Allah dicabut, misalnya terserang stroke gitu, terus mulutnya mencong alias merot, apa dia masih bisa memarahi si Ijah karena lamban melayaninya, atau mengerjakan yang tidak pas dengan perintahnya. Belum lagi kalau sekonyong-konyong koder tidak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya, apa dia masih bersemangat ngajak aku hunting barang-barang merk yang sedang didiscont?” Mulai lagi aku berhalusinasi dengan pikiran kotorku.

“Weleh, weleh. Ternyata semua nikmat yang kita miliki bisa musnah seketika tanpa izin sebelumnya pada kita. Kita wajib bertobat setiap saat untuk dosa-dosa yang kita perbuat,baik yang disengajaja maupun yang tidak kita sadari. Sebab seringkali maksud dan niat kita baik, tapi bisa diterima tidak baik oleh orang yang merasa kurang pas untuk ukuran dia, atau kurang tepat waktu kita menyampaikannya.” Terus aja aku menelaah persoalan ini.

Aku berharap, ibu bisa berubah sedikit demi sedikit, dengan pedoman tidak ada kata terlambat, untuk bertobat. Aku berkewajiban mengubah mindsetnya agar tidak mengedepankan nafsu belanjanya., sifat terburu-buru alias kemrungsung, sifat arogannya pada pembantu, dan ketergantungannya pada paranormal.Aku kewatir ketika  ibu “ dijemput”dia belum sempat bertobat.

“Hidayah tidak akan datang bila tidak diusahakan dan bila Allah tidak menghendaki.” Kalimat itu pernah aku dengar dari seorang Ustadzah yang sedang memberi pencerahan.
Sebelum ibu pergi untuk selamanya aku sempat berbagi dan aku  lebih sering mengajak ibu ngudar roso dalam hal-hal yang menjurus pada kebaikan dan bercerita tentang orang-orang yang mendapat hidayah dari bacaan-bacaan yang pernah kubaca. Terutama yang kupakai untuk acuan dalam bercerita adalah dari buku “Riyadhus sholihin.” Kegiatan ini paling tidak bisa meminimalisir sifat ibu yang hobbynya hunting barang mewah, arogan dengan orang dan lebih percaya klenik dari pada Qur’an dan Hadist.
Selamat jalan ibu sayang, walau kau bukan ibu kandungku, tapi kau wanita hebat yang mewarnai hidupku. Bagiku kau wanita yang dikirim Allah agar aku sadar bahwa drunia penuh dengan kebaikan dan kemaksiatan. Pelajarilah dan jangan sampai ikut arus yang merugikan diri sendiri.

Bagian dari buku "The Stories of Wonder Women" By Sri Sugiastuti 

Rabu, 29 Mei 2024

Memang Enak Menjadi Janda?



"Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri, (QS Ath Thuur : 48)

“Memang enak menjadi janda…?” Sepenggal pertanyaan atau kalimat pelecehan yang kerap didengar dari orang usil tak pernah digubris Mayang.

“Ini takdirku, memang masalah buat kalian?” batinnya dengan santai menjawab.
“Aku kesini mau ketemuan sama Retno sahabatku, mengapa harus mengingat-ingat ocehan orang yang selalu memandang negatif dengan status jandaku?” Hibur hatinya.

Mayang mulai gelisah dan hilang kesabarannya menunggu kedatangan Retno yang ngajak janjian di warung mie-ketoprak tempat mereka makan puluhan tahun yang lalu. Mie ketoprak sejenis santapan berkuah yang hampir mirip dengan soto. Berbahan; tahu, tempe, tauge, kol, daging koyor,dan mie kuning, sedang kuahnya dari kaldu daging sapi yang dibumbui bawang putih, merica dan rempah soto. Biar tambah nendang bisa ditambah bawang goreng, sambal kecap dan karak, (sejenis krupuk dari beras) 
Suasana warung itu masih tetap sama hanya ada beberapa kudapan yang dulu ada sekarang tiada. Mata Mayang menjelajahi meja yang penuh dengan kudapan, tapi gatot goreng dan tempe gembus goreng yang  dicarinya tak tampak.

“ Rupanya mereka  tergusur  dengan risoles isi mayones dan rainbow cake, atau juga aneka snack lain yang lebih bervariasi.” Keinginan Mayang yang ingin mengenang makan tempe gembus goring ditemani 3 cabe rawit kandas.

Mayang memilih tahu bacem sebagai obat rindunya pada makanan di warung itu. Tidak lama  Retno menampakkan batang hidungnya. Mayang  hampir lupa dengan wajah sahabatnya. Waktu banyak mengubah segalanya. Mereka berpelukan bak teletubies.

“ Sorry ya aku terlambat. Suamiku waktu aku pamiti dia mau ikut. Dan aku ngga ngizinkan. Bakal ngga seru lah acara ketemuan kita. Terpaksa kurayu dulu dia biar izinnya keluar.” Ujar Retno mengawali percakapan mereka.
“ Tuh ribetkan punya suami…! Mending kayak aku menjanda,” kilah Mayang.
“ Ya, aku sempat diceritain sama Nita kalau kau sudah lama menjanda.” Retno mengiyakan status Mayang.

“Di usiaku 27 tahun aku menyandang predikat janda. Dengan tiga orang anak. Si sulung berusia 4 tahun, yang nomer dua berusia 2 tahun dan si bungsu baru berusia  3 bulan. Walau Mayang menyandang gelar sarjana hukum, ijasah itu belum pernah ia gunakan untuk mencari kerja. Karena setelah lulus Mayang langsung menikah dan sibuk dengan keluarga. Suaminya meninggal karena penyakit gagal ginjal. Dia tidak meninggali mereka dengan harta yang cukup. Bahkan dia tidak punya pensiun. Yang mereka miliki hanya rumah yang mereka tempati itupun tidak terlalu luas.” Mayang mengisahkan hidupnya.

“Yach itu lah nasib. Kadang nasib baik  tidak selalu berpihak pada kita. Begitu juga dengan asaku ada yang jadi kenyataan tapi banyak juga yang luput untuk ku genggam. Aku sadari, bahwa yang bernasib seperti aku juga banyak. Berstatus janda di saat anak-anak masih sangat membutuhkan figure dan pertolongan seorang ayah. Perpisahan kami disebabkan Allah lebih sayang pada suamiku. Dan Dia memang yang lebih berhak menentukan apa yang terbaik untuk kami sekeluarga.” Mayang mengingat perwakinannya yang singkat.

“Kepergian suamiku tak perlu kuratapi Ret. Aku tidak bisa berlama-lama minta belas kasian saudara atau orang lain untu menghidupi ketiga anakku. Pekerjaan yang aku ambil dan paling banyak dibutuhkan adalah Sales. Bersyukur aku masih punya orang tua yang mau aku titipi anak-anakku ketika aku harus bekerja.” Dengan antusias Mayang tanpa malu menceritakan perjuangan hidupnya.

“Aku berpendapat bahwa pekerjaanku yang pertama ini belum tentu jadi pekerjaanku selamanya. Karena bekerja sebagai Sales yang harus door to door menawarkan produk bukan lah pekerjaan yang enak dan mudah. Aku harus siap bila digonggong anjing, aku harus siap bila produk yang aku tawarkan ditolak, aku juga harus siap dengan segala resiko berjualan yang lainnya. Karena produk yang aku tawarkan biasanya punya harga yang berbeda-beda tiap bulannya. Ada yang berharga khusus promo bulan ini, ada harga normal, ada juga beberapa produk yang turun harga karena stocknya tidak banyak lagi. Semua harus kupelajari dengan teliti kalau tidak aku akan mengalami kerugian yang cukup fatal. Begitu lah saat itu yang sedang ngetrend adalah berjualan secara langsung.”

“Aku menekuni pekerjaan itu cukup lama dan hasilnya pun alhamdulillah bisa untuk menghidupi diriku dan ketiga anakku. Sampai anak yang sulung masuk SMP aku menambah pekerjaanku sebagai pencari nasabah dari salah satu perusaahaan asuransi. Setelah training aku langsung diterjunkan bekerja mencari nasabah. Ini bukan pekerjaan yang mudah belum semua orang berasuransi minded. Yang jadi targetku adalah kelas menengah ke atas.” Mayang mengenang perjuangannya  betapa sulitnya mencari nasabah asuransi, karena kesadaran orang dalam memprotect diri dan keluarga masih sangat minim.” Sambil menarik napas panjang Mayang melanjutkan ceritanya.

“Pekerjaanku menuntut aku untuk bisa meyakinkan para nasabahku bahwa berasuransi itu menguntungkan. Aku banyak berhubungan dengan orang dari berbagai kalangan. Mentalku harus kuat. Sudah kerap kali pekerjaanku hanya dipandang sebelah mata, dan disepelekan. Tapi itu bukan halangan bagiku. Semua kujalani dengan enjoy and comfort” Tak terlihat rasa penyesalan di wajahnya.

“ Retno, masih dengerin ngga nih, aku lanjut ya! Tak terasa umurku bertambah. Biaya hidup dan pendidikan anakku pun bertambah. Semua bisa kulalui walau dengan tertatih-tatih. Tidak ada rasa putus asa. Yang ada dalam benakku adalah anakku harus berhasil dalam meraih sukses dunia dan akherat. Semangat semangat dan semangat. Kesibukanku memenuhi kebutuhan hidup ku sekeluarga menghalangiku untuk berniat mencari pendamping pengganti suamiku. Aku bisa bertahan sebagai single parent hingga saat ini karena aku punya tempat  curhat yang istimewa. Yaaa hanya Allah yang setia mendengarkan curhatku.” Mayang mulai meneteskan airmata.

“Andai saja aku tak punya bekal sabar dan syukur, ku tak tahu apa yang akan terjadi pada diriku. Apa yang terjadi dengan kedua buah hatiku. Aku dan anak-anak sudah kehilangan sandaran hidup, tempat kami mendambakan perlindungan, kasih sayang, dan harapan untuk bisa bertahan hidup dan mewujudkan impian kami. Sebuah rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah sesuai dengan komitmen kami ketika menikah dulu.” Mayang memang pernah mengungkapkan isi hatinya pada teman-temannya yang sedang terpuruk.
 Tapi pesan mendiang ibuku selalu jadi penyemangat hidupku.” Retno jadi semakin terharu.

 “ Mayang kau kelak akan jadi seorang istri dan ibu dari anak-anakmu. Hidup di dunia ini bak orang yang menyebrang jalan begitu singkat dan harus punya keberanian tapi juga harus hati-hati. Jangan sampai kau lengah atau tidak bisa mengambil sikap.” Masih terngiang petuah dari mendiang ibunya.

 “ Aku kasih tahu ya Ret, ketika keletihan datang atau hasrat libidoku menghampiri semua bisa kutepis dan kulawan dengan janjiku pada Allah dan mendiang suamiku bahwa aku akan membesarkan anak-anakku bersama Allah. Dialah tempatku bersandar dan menggantungkan seluruh hidup dan matiku. Yang ada dalam hatiku adalah ketenangan yang luar biasa. Walau pada saat itu aku tidak memiliki apa yang aku butuhkan untuk esok hari. Tapi aku yakin  Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang mau berikhtiar dan berdoa.” Aku yang sejak tadi menyimak ikut hanyut dengan kisah perjuangan hidupnya. 
“Bagiku  apapun anggapan mereka itu sah-sah saja. Tapi yang harus diingat, ini hidup hidup aku. Biarkan aku yang menentukan jalan hidupku. Tak ada seorang pun yang berhak ikut menentukan jalanku kecuali Allah SWT. Apakah mereka tahu betapa kerasnya usahaku dalam membesarkan anak-anaku? Apakah mereka mengerti bagaimana perasaanku ketika anakku berkeinginan sekolah di luar negeri padahal aku tidak ada dana untuk itu? Apakah mereka merasakan nelongsonya hati ini ketika tidak bisa memenuhi kebutuhan yang diperlukan anak? Melalui proses yang tidak mudah alhamdulillah semua bisa kupenuhi walau dengan susah payah. Doaku didengar Allah lalu  mengabulkan apa yang aku inginkan dan aku mohon siang dan malam.” Retno masih setia mendengarkan curhat sahabatnya yang sangat mengharukan.

“Nabila putri sulungku lulus dari Tehnik Kimia UGM 2 tahun lalu dan sekaramg menempuh  S2 di Jerman karena dapat sponsor dari perusahaannya. Fathoni yang mengambil jurusan kedokteran di UNDIP juga hampir selesai. Dan si bungsu  Anisa malah baru saja lulus dari fakultas ekonomi di UNBRA. Apakah aku sudah puas dan bahagia dengan apa yang diraih anak-anakku? Jawabnya Alhamdulillah. Aku bersyukur karena sampai detik ini password  “Sabar dan Syukur” masih kugigit dengan kuat dan kuterapkan dalam hidupku.

“Aku memang sudah melakoni begitu banyak episode dalam mencari bekal untuk hidupku yang abadi nantinya.Kehidupanku  di dunia ini kan begitu terbatas, singkat, dan tak selalu indah. Retno, ingat ya…! Rasa syukur dan sabar yang menghiasi hidupku tidak datang tiba-tiba. Semua berproses.” Ada senyum kepuasan yang kulihat di mata Mayang.

  “Begitu banyak nikmat Allah  yang kurasakan dan aku tak mampu menghitungnya. Aku merasa selalu saja ada jalan keluar untuk semua urusanku dari yang sangat sederhana sampai masalah yang rumit. Orang lain mungkin melihatku merasa kasihan dan iba. Itupun kalau dia adalah orang yang hidup berkecukupan dan strata ekonominya di atas aku. Ada juga orang  menilai diriku adalah wanita yang hebat dan tegar . Karena dia memandangnya  di saat merasa hidupnya tercabik-cabik ketika ditinggal suaminya dan tidak tahan dengan beban hidup yang menghimpitnya.”
” Koq bisa ya hidup menjanda sekian tahun?” Masih kuingat ucapan Andri teman SMPku.
“Setiap orang berhak menilaiku sesuka hati mereka Retno.” Nada suara Mayang datar saja tanpa emosi.
“Jalan yang ku tempuh masih panjang. Kadang ada keletihan dalam hidupku ketika harus berusaha sendiri, imanku naik turun, ketika terbentur masalah keuangan dalam waktu bersamaan ketiga anakku membutuhkan dana yang cukup besar. Bayar SPP, bayar Study Tour, bayar uang Pratikum,dan sejuta pengeluaran lain yang begitu banyak antri minta dipenuhi semua. Wa laa haula wa laa quwwata illa billahil’aliyyil’aziim.” Retno semakin terharu. Ternyata perjuangan single parent itu tidak mudah.
“ Seharusnya aku lebih bersyukur dari Mayang, karena ada mas Bimo yang sangat care padaku dan keluarga,” Sesaat Retno teringat suaminya yang sering dicereweti.

“Saat itulah aku dituntut menjadi pemain sirkus yang andal yang harus bisa memecahkan masalah tanpa masalah (pegadaian kali ^-^ ). Retno, di zaman serba susah, dimana biaya pendidikan begitu mahal, dimana semua kadang serba tidak pasti. Karena apa yang kita harapkan ternyata luput dari genggaman. Andai aku tidak smart dalam mengatur strategi keuanganku, andai aku tergiur dengan pola hidup konsumtif, andai  aku hanya memikirkan diriku sendiri dan tidak punya komitmen dengan Allah dan suamiku, andai aku cuek bebek lalu  hanyut terbawa arus setan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancur dan merananya kehidupan anak-anakku.” Ah begitu semangatnya Mayang menumpahkan semua isi hatinya padaku.

Pertemuan ini dikuasai Mayang. Mie-ketropak yang mereka pesan hampir dingin dan tidak menyelera lagi ketika disantap. Tapi hati Mayang begitu lega karena bisa berbagi dengan Retno yang sangat dikangeni.
“ Mayang, aku salut dengan sikapmu menerima takdir Allah. Aku belum tentu bisa menjalani seperti yang kau lakoni. Seharusnya aku bisa lebih bersyukur darimu.” Retno seakan kena tampar malaikat yang mengingatkan dirinya agar tidak zalim pada suami.
*****
 Rembulan di tanggal 14 memantulkan cahayanya benderang di luar sana. Mayang mengintip keindahan itu dari balik tirai. Kesunyian malam selalu menemani hidupnya. Dinginnya udara malam, terasa sampai ke tulang sumsum. Tapi semua tak membuatnya jera duduk berlama-lama untuk bercinta dengan-Nya. Saat dimana hati selalu  membuncah memuja-Nya. 

“Entah sampai kapan aku hidup dalam kesunyian yang selalu kunanti dari hari ke hari di sepanjang sisa hidupku. Dalam bermunajat dengan-Nya. Selalu saja mataku basah dan berurai air mata. Inilah klimak dari caraku bercinta dengan-Nya. Dua magic words yang kumiliki seakan jadi kata-kata sakti penguat hidupku. Benar-benar ku genggam password “ Sabar dan Syukur”yang ditanamkan oleh kedua orangtuaku. “
“ Ya Allah izinkan aku flashback sejenak, agar aku tidak menjadi ciptaan_Mu yang tidak sombong, melainkan menjadi hamba-Mu yang pandai bersyukur dan Narimo dengan apa yang menjadi ketetapanMu.” Dibiarkan pikirannya mengembara di saat ia berjuang membesarkan tiga buah hatinya, dari hasil cinta mereka yang singkat.

“ Aku  bisa merengkuh manisnya nikmat Sabar dan syukur itu sungguh luar biasa. Ya sabarku ketika Allah mengambil apa yang jadi milikNya. Orang yang dijodohkan olehNya, pria yang amat sangat singkat hidup denganku. Lalu tiga orang anak yang menjadi tanggung jawab kami, harus ku apakan? Mereka masih butuh sosok seorang ayah. Tapi Allah mempercayaiku untuk menghidupi mereka tanpa sosok seorang ayah.” Kalimat penguat itu selalu jadi tameng hidupnya.

“ Ya Allah izinkan  mengenang orang orang yang berjasa dalam hidupku setelah kepergian suamiku. Ada Umi dan Abi yang selalu menyemangati hidupku agar tidak menyerah ketika membesarkan anak-anakku. Ada Fatimah sohib kentalku yang selalu ada saat aku suntuk maupun stuck at trifles, dia menghiburku layaknya adiknya sendiri, memotivasiku agar tetap tegar dan maju terus pantang mundur. Dia juga menyulutkan api cinta, sayang dan harapan dalam hatiku agar tetap menyala menyinari ketiga anakku. Makasih Umi makasih Abi makasih Fatimah. Kalian lah duta Allah yang diminta untuk menjagaku dan menghiburku di kala hatiku galau tak menentu. Tak mungkin aku melupakan jasa mereka.” Cara Mayang bersyukur sangat santun sehingga tidak ada kegelisahan dalam hatinya.
Mayang sadar benar bahwa ia bukan super woman. Ia manusia biasa yang punya logika dan perasaan kadang di penghujung malam menjelang pagi ini ada terbersit rasa untuk mengenang orang yang dikirim setan untuknya.

“Masa iya,  koq bisa sih setan ngirim orang untuk melemahkan imannya” Nyatanya memang ada. Ya ,Mayang  ingat Rudi teman SMAnya yang dulu pernah naksir aku. Dia mencoba memasuki koridor hatiku setelah suamiku pergi. Aku mau dijadikan istri kedua dan dinikah secara siri. Karena dia sudah berkeluarga tapi ingin ngopeni diriku dan anak-anakku. No way ya Rudi! “ Jawabku tegas. Jalanku jalanmu yuk kita berpacu membimbing anak-anak kita agar menjadi penyejuk hati.

Pak Burhan atasanku yang di perusahaan asuransi juga pernah berminat dengan diriku setelah istrinya meninggal karena sakit kanker rahim .Ketika tanpa basa-basi dia meminangku, kutolak dengan halus.”Maaf Pak Burhan saya lebih nyaman hidup seperti ini. Sudah menjadi komitmen ketika kami menikah dulu. Cinta kami tidak bisa tergantikan, siapa yang lebih lama hidup dialah yang bertanggungjawab untuk membesarkan buah hati kami tanpa harus ada pengganti  dari kami”. Alhamdulillah dia mengerti perasaanku dan juga alasanku.

“Wow  kalau si Adnan bujang lapuk yang begitu perfect menata hidupnya hingga takut married juga pernah secara serius ingin menjadi pendampingku. Alamak ini sih cari masalah usianya saja terpaut 10 tahun denganku!.Anak orang kaya, tidak pernah susah, sudah sattle pula hidupnya. Kalau kuterima pinangannya apa kata dunia?  Senang brondong ya!!!!!!!!!!! he he Tidak lah yauw…!” Hatiku tertawa sendiri

Kejadian itu masuk begitu saja dalam episode kehidupan Mayang. Dan semuanya masih bisa dibentengi  dengan password “Sabar dan Syukur.”  Sabar ketika Allah mengujinya dengan mengirim ketiga pria yang  latar belakang kehidupannya berbeda dan terang-terangan ingin melamarnya. Mayang tidak grusa- grusu dalam menjawab semua lamaran itu. “Ya Allah, jauhkan mereka dariku, jangan Kau jadikan mereka sebagai penghalangku dalam membesarkan dan membimbing anak-anakku.” Mayang bersyukur karena aku selalu diberi kekuatan dan ketetapan hati untuk mengatakan “Tidak” kepada mereka. Karena aku punya janji dengan Allah dan mendiang suamiku bahwa aku harus sanggup membesarkan buah hatiku hanya dengan pertolongan Allah. Alhamdulillah mereka mau mengerti apa yang menjadi alasan Mayang 

“Ya Allah malam ini aku tersenyum bahagia atas semua nikmat yang telah Kau berikan padaku. Maafkan aku Ya Allah karena tanpa kusadari aku sering mengeluh dan mendekteMu agar diberi kemudahan, diberi kekuatan, diberi hidayah, dan seabreg permintaan yang malu aku sebutkan satu persatu. Padahal aku yakin kau Maha Mendengar, Maha Pemberi, Maha bijaksana dan Maha yang lainnya sesuai dengan diriMu yang memiliki Asmaul Husnah.Ya Allah semua itu kulakukan karena aku tak ingin jauh dari rahmatMu, ku tak ingin setan membujukku agar aku ingkar akan NikmatMu, lalu dihantui  rasa takut miskin, rasa was-was yang berkepanjangan, perasaan ragu akan KeagunganMu. Dan perasaan-perasaan lain yang menjauhkanku dariMu.” Selalu kubermunajat di malam heningku.
.
“Ya Allah. Semoga munajatku padaMu malam ini akan menambahkan kekuatan imanku, menambah gairah hidupku, untuk tetap istiqomah dalam meraih ridhaMu. Buah hatiku masih butuh bimbinganku, bekalku untuk hidup yang lebih kekal belum cukup. Beri akau kesempatan untuk bisa melihat amanahMu yang Kau titipkan padaku sukses meraih ridhaMu. Beri aku umur panjang yang bermanfaat Ya Allah, agar bekalku lengkap, dan tidak menyesal ketika dihisab karena aku termasuk orang yang beruntng. Ku ingin tersenyum ikhlas ketika menghadap-Mu dalam keadaan husnul khotimah. Amin.”

Di saat ayam berkokok dan datangnya mentari yang tak pernah ingkar janji, Mayang semakin optimis bahwa hidupnya yang dekat dengan Allah begitu indah dan password “ Sabar dan Syukur itu jadi kekuatan hidupnya sampai saat ini.

Dikutip dari Novel Hidayah " The Stories of Wonder Women" By: Sri Sugiastuti 


Senin, 01 April 2024

Siapakah yang Dirindukan Menjadi Penghuni Surga?


Siapakah yang Dirindukan Menjadi Penghuni Surga?

Oleh: Sri Sugiastuti

Setiap Ramadan selalu ada catatan istimewa yang perlu ditindaklanjuti. Bagaimana dengan sisa usia yang ada, terus berikhtiar mengupgrade diri agar naik kelas. Allah pasti punya catatan tersendiri untuk mereka yang berjuang meraih gelar takwa juga punya keinginan kuat menggapai rida-Nya.

Kegiatan yang sangat mendukung ke arah ketakwaan bisa dilaksanakan di masjid, di rumah atau pun di perjalanan. Hampir di setiap masjid punya acara andalan yang disajikan kepada warga sekitar. Begitu juga dengan warga yang sadar akan keberadaan masjid, sudah pasti dijadikan tempat untuk melaksanakan berbagai amalan di bulan Ramadan.

Tiap hari warga masjid menjalankan program Ramadan sebaik-baiknya. Momen ini menjadi sarana untuk menambah keimanan, ketakwaan, juga kesempatan untuk
memuliakan bulan Ramadan. Rata- rata sehari 2 kali sehari warga masjid yang mengikuti kajian juga salat taraweh dan salat fardu di masjid mendapat siramam  rohani yang bisa mencerahkan batin mereka masing- masing.

Ada catatan kajian usai salat Subuh di Ramadan hari ke 21 yang sangat mencerahkan dan menambah semangat jamaah yang mengikuti kajian tersebut. " Siapakah yang dirindukan Surga?" Satu pertanyaan yang membuat jamaah tergelitik.

Dijelaskan oleh Pak Ustad ada empat  golongan yang dirindukan sebagai penghuni Surga

1. Orang yang mentadaburi Alquran.Banyak ayat dan hadis yang menguatkan pernyataan tersebut.

Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (QS Al-Isra: 9).
Dengan tekun mempelajari dan melaksanakan tadabbur Al-Quran, maka Insya Allah kita terhindar dari kemaksiatan dan kekufuran karena Al-Quran akan selalu menuntun kepada kebaikan. Begitu juga dengan Guru TPA yang mengajarkan Al Quran menjadi orang yang dirindukan Surga.

2. Orang yang menjaga lisan. Berhati- hatilah dengan ucapan yang meluncur dari mulut kita. Kepelesetnya lisan dibawa mati. Gunakan prinsip"Bicaralah yang baik atau diam". Fenomena yang ada saat ini justru ghibah semakin merajalela.
Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda terkait ghibah:
"Tahukah kamu, apa itu ghibah?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Kemudian Beliau bersabda, "(Ghibah yaitu) kamu membicarakan (menyebut-nyebut) saudaramuatas hal-hal yang tidak disukainya (dibencinya)."
Ditanyakan kepada Rasulullah, "Lalu bagaimana jika apa yang aku bicarakan itu memang benar ada pada diri saudaraku?" Rasulullah SAW berkata, "Jika apa yang kamu bicarakan itu memang ada pada diri saudaramu, maka kamu telah menggunjingnya. Dan jika yang kamu bicarakan itu tidak ada pada diri saudaramu, maka kamu telah berbuat kedustaan (kebohongan) terhadapnya." (HR Muslim).
Itu sebabnya orang yang bisa menjaga lisanya menjadi orang yang dirindukan Surga.Mereka berbicara yang baik, taat pada Allah dan tidak menyakiti orang lain dengan lisannya.

3. Orang yang sering memberi makan hambabAllah yang membutuhkan. Mereka yang rajin bersedekah karena Allah. Termasuk menginfaqkan sebagian rezekinya di jalan Allah.
QS. Ali Imran ayat 134: "(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” 
Sangat jelas ayatnya. Mereka dicintai Allah dan dir8ndukan Surga.

4 . Orang yang berpuasa di bulan Ramadan. Ternyata
ada 2 kebahagiaan yang diterima orang yang berpuasa.  Kebahagiaan yang utama saat mereka berbuka puasa. Yang kedua kelak mereka akan masuk seaat  pintu Royan.

Selain di dalam Al-Qur'an, kewajiban ibadah puasa juga disebutkan dalam sejumlah hadis, yaitu:
Rasulullah Shallallahu'alahiwa sallam menyampaikan
“Seluruh amalan kebaikan manusia akan dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta'ala berfirman, “Kecuali puasa. Sebab pahala puasa adalah untuk-Ku. Dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia (orang yang berpuasa) telah meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku." HR Bukhari & Muslim.

Nah, 4 golongan ini sangat dirindukan Surga. Tema Pencerahan  ini walaupun sering didengar atau disampaikan tetap saja menjadi kabar gembira dan memotivasi diri supaya tetap semangat menggapai rida Allah.

Soloraya 01 04 2024

Rabu, 13 Maret 2024

CINTA DUNIA ITU PENYAKIT HATI


CINTA DUNIA ITU PENYAKIT HATI

Oleh : Sri Sugiastuti

Dunia dan segala isinya selalu menggoda. Allah ciptakan dunia sebagai tempat hidup makhluknya sejak ia lahir hingga menutup mata. Sedangkan banyak pedapat mengatakan bahwa dunia memiliki komposisi sesuai yang tertuang dalam sebuah ayat yang sangat popular. 

Allah dalam firman-Nya; “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (Al-Hadid : 20)

Kalimat “dunia hanyalah permainan” Al-La’ibu dan Al-Lahwu yang merupakan PERMAINAN. Maksudnya Al-Laibu adalah apa saja yang menyebabkan seseorang cinta dunia, sedangkan Al-Lahwu adalah apa saja yang membuat orang lupa akhirat dan menyepelekannya. Dan nyatanya kehidupan kebanyakan manusia di muka bumi ini adalah seperti itu. Mereka menghalalkan segala cara, silau dengan kekayaan yang dimiliki orang lain, rela berbuat curang dan masih banyak perbuatan yang melanggar hukum yang disebabkan karena cinta dunia.

Selanjutnya ada kata Az-Zinah adalah PERHIASAN. Dunia memang perhiasan, kebanyakan orang berlomba-lomba menghias dirinya dengan fasilitas dunia tanpa beramal untuk kehidupan akhirat. Sebagai perhiasan, dari kekayaannya, orang bisa pamer apa yang sudah dicapai, apa yang sudah dimiliki, apa yang menjadi lambang kesuksesannya seakan diukur dengan harta yang dimiliki di dunia ini dalam bentuk fisik dan materi.

Tafakhurun bainakum, makudnya adalah sebagian dari manusia banyak yang berbangga diri dengan segala sesuatu yang dia dapatkan di dunia terlebih fisik dan kekuatannya. Mereka bangga dengan capaian yang sudah diperoleh tanpa melihat prosesnya sudah benar atau belum. Yang jelas keberadaan dan kekayaannya bisa dinilai orang lain bahwa ia sukses dan bisa diperhitungkan kekayaan dan kesuksesannya.

Takatsurun fi Al-Amwaal wa Al-Aulaad, yaitu manusia berbangga diri dengan harta kekayaannya dan anak-anakya atas orang miskin. Ini yang sangat menyedihkan dan jadi penyakit hati hamba Allah yang diuji dengan harta benda dan kesempatan untuk diberi amanah, tetapi tidak bisa menjalani dengan baik. Mereka kadang memandang orang yang kurang beruntung dengan pandangan menghina, atau menyalahkan tanpa mau membantu dan menanyakan apa sebabnya.

Sebenarnya bila direnungkan lebih dalam bahwa Allah menciptakan dunia dan seisinya memang untuk lahan amal ibadah kita semua. Bagaimana bisa mengelola dengan baik dan memanfaatakannya dengan cara yang ma’ruf.

Jadi, kehidupan dunia dengan segala kenikmatannya yang diciptakan Allah SWT untuk manusia itu tidak haram atau makruh untuk dinikmati. Tetapi, jika kenikmatan dunia itu akan memalingkan manusia dari akhirat maka semuanya bisa berubah menjadi makruh bahkan haram. Alangkah baiknya jika kita menggunakan fasilitas dunia ini untuk mengumpulkan bekal kita diakhirat kelak dengan selalu beribadah dan mendekatkan diri pada-Nya.

Cinta dunia akan jadi penyakit hati, ketika tidak ada pengertian dan kesadaran manusia dalam mengelolanya. Kegelapan akibat manusia terlalu cinta pada dunia memerlukan titik cahaya penerang yang akan menunjukan manusia pada kesadaran hakikat manusia hidup di dunia ini. Penerang tersebut adalah takwa. Dimana takwa merupakan mengerjakan perintah Allah SWTyang menghasilkan keridaan dan pahala Allah SWT dan senatiasa menjaui larangan-Nya yang mengantarkan kita pada kemurkaan Allah SWT. Takwa juga merupakan kesempurnaan yang melindungi manusia dari apa saja yang merugikannya pada hari kiamat kelak.

Jadi intinya penyakit hati karena cinta dunia bisa dibentengi dengan ketakwaan yang dimiliki dan dibangun oleh manusia itu sendiri. Semoga kita bisa menjadi manusia yang bertaqwa sesuai dengan AlQuran dan As sunnah.

Belajar mengingatkan diri sendiri dan mengamalkan satu ayat yang ada di dalam Al Quran dan berbagi.

01 Ramadhan 1440
Pernah menghiasi blog gurusiana tahun 2018

Selasa, 12 Maret 2024

BULAN RAMADAN IDENTIK DENGAN AMPUNAN


BULAN RAMADAN IDENTIK DENGAN AMPUNAN

Oleh Sri Sugiastuti

Manusia hidup tak pernah lepas dari jeratan dosa. Baik itu dosa ringan atau pun dosa berat. Itulah sebabnya kita selalu memohon ampunan di saat selesai salat fardhu atau pun jadi bagian kalimat toyibah yang kita ucapan setiap hari.

Di zaman yang serba instan di era milenial banyak peluang untuk berbuat dosa. Contohnya banyak dimanfaatkan orang dengan melakukan penipuan online, menjadi hacker, memproduksi berita hoax dan menjualproduk palsu. Itu semua bagian dari mudahnya berbuat dosa tanpa ada filter yang kuat untuk membentengi yaitu keimanan dan ketakwaan seseorang.

Ada juga dosa yang dihasilkan karena ketidaktaatan pada perintah Allah seperti meninggalkan salat karena te berlama-lama berada di Mall, main games, atau sekadar bersibuk diri membaca komentar di WA, tidak puasa di bulan Ramadan, melakukan free sex, berjudi, ikut transaksi narkoba, dan masih banyak lagi. Perlahan tapi pasti akhirnya mereka menyadari berada di tempat yang salah, telah melakukan yang dilarang Allah dan mereka pun mulai galau dengan apa yang sedang dikerjakan karena sudah melenceng jauh dari apa yang dipeirntahkan Allah SWT.

Dalam kegalauan mereka akan kembali pada Al Quran dan membuka petunjuk yang ada di dalamnya. Allah SWT, Allah berfirman.
“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS At-Tahrim: 8)
"Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat nasuha (tobat yang semurni-murninya)." Sebenarnya apa yang dimaksud dengan tobat Nasuha?
 Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan, tobat nasuha, yaitu tobat yang jujur, yang didasari atas tekad yang kuat, yang menghapus kejelekan-kejelekan di masa silam, yang menghimpun dan mengentaskan pelakunya dari kehinaan.

Dalam kitab Riyadh as-Shalihin dijelaskan, jika kemaksiatan itu menyangkut urusan seorang hamba dengan Allah saja, tidak ada hubungannya dengan hak manusia, tobatnya harus memenuhi tiga syarat. Pertama, hendaklah berhenti melakukan maksiat. Kedua, menyesal karena telah melakukan kemaksiatan. Ketiga, berniat tidak akan kembali mengulangi perbuatan maksiat itu untuk selama-lamanya. Apabila tobatnya berkenaan dengan hubungan sesama manusia, tiga syarat tersebut ditambah satu lagi. Orang yang bertobat itu harus meminta kehalalan dari orang yang diambil hak-haknya atau dizalimi.

Tiga syarat tadi mutlak dipenuhi pleh orang yang ingin bertobat. Memang saat bertobat tidak harus menunggu bulan Ramadan.Tetapi sangat jelas bahwa bulan Ramadan adalah bulan ampunan.Jadi sangat cocok buat orang yang sedang galau dan merasa sudah melangkah terlalu jauh dari perintah Allah untuk segera bertobat. Manusia masih diberi kesempatan dengan datangnya bulan Ramadan yang penuh keberkahan, ampunan dan terbukanya pintu surga bagi orang-orang yang ingin menjadi penghuninya.

Rasulullah mengajarkan kita mengiringi keburukan dengan kebaikan, niscaya dengan kebaikan itu akan gugur tiap-tiap keburukan. Karena, seperti sabda Nabi dari Abdullah bin Umar, "Sesungguhnya Allah menerima tobat hamba selama ruhnya belum sampai di kerongkongan."
Momentum bulan Ramadan sangat tepat untuk menggapai ampunan dengan bertobat nasuha. Allah selalu memberi kesempatan pada umat-Nya untuk bertobat. Masalahnya bagaimana dengan perasaan dan kesadaran manusianya sendiri. Apakah dia tetap terlena atau menyadari dan merasa galau dengan dosa-dosa yang diperbuat.

Saatnya memohon ampunan untuk dosa yang telah diperbuat baik itu dosa kecil maupun dosa besar, baik yang disengaja maupun tidak. Selagi masih ada kesempatan. Ayo lakukan jangan ditunda lagi.

Sri Sugiastuti, belajar mengamalkan satu ayat untuk dirinya dan berbagi.
Pernah menghiasi  Blog Gurusiana 2018