Rabu, 29 Mei 2024

Memang Enak Menjadi Janda?



"Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri, (QS Ath Thuur : 48)

“Memang enak menjadi janda…?” Sepenggal pertanyaan atau kalimat pelecehan yang kerap didengar dari orang usil tak pernah digubris Mayang.

“Ini takdirku, memang masalah buat kalian?” batinnya dengan santai menjawab.
“Aku kesini mau ketemuan sama Retno sahabatku, mengapa harus mengingat-ingat ocehan orang yang selalu memandang negatif dengan status jandaku?” Hibur hatinya.

Mayang mulai gelisah dan hilang kesabarannya menunggu kedatangan Retno yang ngajak janjian di warung mie-ketoprak tempat mereka makan puluhan tahun yang lalu. Mie ketoprak sejenis santapan berkuah yang hampir mirip dengan soto. Berbahan; tahu, tempe, tauge, kol, daging koyor,dan mie kuning, sedang kuahnya dari kaldu daging sapi yang dibumbui bawang putih, merica dan rempah soto. Biar tambah nendang bisa ditambah bawang goreng, sambal kecap dan karak, (sejenis krupuk dari beras) 
Suasana warung itu masih tetap sama hanya ada beberapa kudapan yang dulu ada sekarang tiada. Mata Mayang menjelajahi meja yang penuh dengan kudapan, tapi gatot goreng dan tempe gembus goreng yang  dicarinya tak tampak.

“ Rupanya mereka  tergusur  dengan risoles isi mayones dan rainbow cake, atau juga aneka snack lain yang lebih bervariasi.” Keinginan Mayang yang ingin mengenang makan tempe gembus goring ditemani 3 cabe rawit kandas.

Mayang memilih tahu bacem sebagai obat rindunya pada makanan di warung itu. Tidak lama  Retno menampakkan batang hidungnya. Mayang  hampir lupa dengan wajah sahabatnya. Waktu banyak mengubah segalanya. Mereka berpelukan bak teletubies.

“ Sorry ya aku terlambat. Suamiku waktu aku pamiti dia mau ikut. Dan aku ngga ngizinkan. Bakal ngga seru lah acara ketemuan kita. Terpaksa kurayu dulu dia biar izinnya keluar.” Ujar Retno mengawali percakapan mereka.
“ Tuh ribetkan punya suami…! Mending kayak aku menjanda,” kilah Mayang.
“ Ya, aku sempat diceritain sama Nita kalau kau sudah lama menjanda.” Retno mengiyakan status Mayang.

“Di usiaku 27 tahun aku menyandang predikat janda. Dengan tiga orang anak. Si sulung berusia 4 tahun, yang nomer dua berusia 2 tahun dan si bungsu baru berusia  3 bulan. Walau Mayang menyandang gelar sarjana hukum, ijasah itu belum pernah ia gunakan untuk mencari kerja. Karena setelah lulus Mayang langsung menikah dan sibuk dengan keluarga. Suaminya meninggal karena penyakit gagal ginjal. Dia tidak meninggali mereka dengan harta yang cukup. Bahkan dia tidak punya pensiun. Yang mereka miliki hanya rumah yang mereka tempati itupun tidak terlalu luas.” Mayang mengisahkan hidupnya.

“Yach itu lah nasib. Kadang nasib baik  tidak selalu berpihak pada kita. Begitu juga dengan asaku ada yang jadi kenyataan tapi banyak juga yang luput untuk ku genggam. Aku sadari, bahwa yang bernasib seperti aku juga banyak. Berstatus janda di saat anak-anak masih sangat membutuhkan figure dan pertolongan seorang ayah. Perpisahan kami disebabkan Allah lebih sayang pada suamiku. Dan Dia memang yang lebih berhak menentukan apa yang terbaik untuk kami sekeluarga.” Mayang mengingat perwakinannya yang singkat.

“Kepergian suamiku tak perlu kuratapi Ret. Aku tidak bisa berlama-lama minta belas kasian saudara atau orang lain untu menghidupi ketiga anakku. Pekerjaan yang aku ambil dan paling banyak dibutuhkan adalah Sales. Bersyukur aku masih punya orang tua yang mau aku titipi anak-anakku ketika aku harus bekerja.” Dengan antusias Mayang tanpa malu menceritakan perjuangan hidupnya.

“Aku berpendapat bahwa pekerjaanku yang pertama ini belum tentu jadi pekerjaanku selamanya. Karena bekerja sebagai Sales yang harus door to door menawarkan produk bukan lah pekerjaan yang enak dan mudah. Aku harus siap bila digonggong anjing, aku harus siap bila produk yang aku tawarkan ditolak, aku juga harus siap dengan segala resiko berjualan yang lainnya. Karena produk yang aku tawarkan biasanya punya harga yang berbeda-beda tiap bulannya. Ada yang berharga khusus promo bulan ini, ada harga normal, ada juga beberapa produk yang turun harga karena stocknya tidak banyak lagi. Semua harus kupelajari dengan teliti kalau tidak aku akan mengalami kerugian yang cukup fatal. Begitu lah saat itu yang sedang ngetrend adalah berjualan secara langsung.”

“Aku menekuni pekerjaan itu cukup lama dan hasilnya pun alhamdulillah bisa untuk menghidupi diriku dan ketiga anakku. Sampai anak yang sulung masuk SMP aku menambah pekerjaanku sebagai pencari nasabah dari salah satu perusaahaan asuransi. Setelah training aku langsung diterjunkan bekerja mencari nasabah. Ini bukan pekerjaan yang mudah belum semua orang berasuransi minded. Yang jadi targetku adalah kelas menengah ke atas.” Mayang mengenang perjuangannya  betapa sulitnya mencari nasabah asuransi, karena kesadaran orang dalam memprotect diri dan keluarga masih sangat minim.” Sambil menarik napas panjang Mayang melanjutkan ceritanya.

“Pekerjaanku menuntut aku untuk bisa meyakinkan para nasabahku bahwa berasuransi itu menguntungkan. Aku banyak berhubungan dengan orang dari berbagai kalangan. Mentalku harus kuat. Sudah kerap kali pekerjaanku hanya dipandang sebelah mata, dan disepelekan. Tapi itu bukan halangan bagiku. Semua kujalani dengan enjoy and comfort” Tak terlihat rasa penyesalan di wajahnya.

“ Retno, masih dengerin ngga nih, aku lanjut ya! Tak terasa umurku bertambah. Biaya hidup dan pendidikan anakku pun bertambah. Semua bisa kulalui walau dengan tertatih-tatih. Tidak ada rasa putus asa. Yang ada dalam benakku adalah anakku harus berhasil dalam meraih sukses dunia dan akherat. Semangat semangat dan semangat. Kesibukanku memenuhi kebutuhan hidup ku sekeluarga menghalangiku untuk berniat mencari pendamping pengganti suamiku. Aku bisa bertahan sebagai single parent hingga saat ini karena aku punya tempat  curhat yang istimewa. Yaaa hanya Allah yang setia mendengarkan curhatku.” Mayang mulai meneteskan airmata.

“Andai saja aku tak punya bekal sabar dan syukur, ku tak tahu apa yang akan terjadi pada diriku. Apa yang terjadi dengan kedua buah hatiku. Aku dan anak-anak sudah kehilangan sandaran hidup, tempat kami mendambakan perlindungan, kasih sayang, dan harapan untuk bisa bertahan hidup dan mewujudkan impian kami. Sebuah rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah sesuai dengan komitmen kami ketika menikah dulu.” Mayang memang pernah mengungkapkan isi hatinya pada teman-temannya yang sedang terpuruk.
 Tapi pesan mendiang ibuku selalu jadi penyemangat hidupku.” Retno jadi semakin terharu.

 “ Mayang kau kelak akan jadi seorang istri dan ibu dari anak-anakmu. Hidup di dunia ini bak orang yang menyebrang jalan begitu singkat dan harus punya keberanian tapi juga harus hati-hati. Jangan sampai kau lengah atau tidak bisa mengambil sikap.” Masih terngiang petuah dari mendiang ibunya.

 “ Aku kasih tahu ya Ret, ketika keletihan datang atau hasrat libidoku menghampiri semua bisa kutepis dan kulawan dengan janjiku pada Allah dan mendiang suamiku bahwa aku akan membesarkan anak-anakku bersama Allah. Dialah tempatku bersandar dan menggantungkan seluruh hidup dan matiku. Yang ada dalam hatiku adalah ketenangan yang luar biasa. Walau pada saat itu aku tidak memiliki apa yang aku butuhkan untuk esok hari. Tapi aku yakin  Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang mau berikhtiar dan berdoa.” Aku yang sejak tadi menyimak ikut hanyut dengan kisah perjuangan hidupnya. 
“Bagiku  apapun anggapan mereka itu sah-sah saja. Tapi yang harus diingat, ini hidup hidup aku. Biarkan aku yang menentukan jalan hidupku. Tak ada seorang pun yang berhak ikut menentukan jalanku kecuali Allah SWT. Apakah mereka tahu betapa kerasnya usahaku dalam membesarkan anak-anaku? Apakah mereka mengerti bagaimana perasaanku ketika anakku berkeinginan sekolah di luar negeri padahal aku tidak ada dana untuk itu? Apakah mereka merasakan nelongsonya hati ini ketika tidak bisa memenuhi kebutuhan yang diperlukan anak? Melalui proses yang tidak mudah alhamdulillah semua bisa kupenuhi walau dengan susah payah. Doaku didengar Allah lalu  mengabulkan apa yang aku inginkan dan aku mohon siang dan malam.” Retno masih setia mendengarkan curhat sahabatnya yang sangat mengharukan.

“Nabila putri sulungku lulus dari Tehnik Kimia UGM 2 tahun lalu dan sekaramg menempuh  S2 di Jerman karena dapat sponsor dari perusahaannya. Fathoni yang mengambil jurusan kedokteran di UNDIP juga hampir selesai. Dan si bungsu  Anisa malah baru saja lulus dari fakultas ekonomi di UNBRA. Apakah aku sudah puas dan bahagia dengan apa yang diraih anak-anakku? Jawabnya Alhamdulillah. Aku bersyukur karena sampai detik ini password  “Sabar dan Syukur” masih kugigit dengan kuat dan kuterapkan dalam hidupku.

“Aku memang sudah melakoni begitu banyak episode dalam mencari bekal untuk hidupku yang abadi nantinya.Kehidupanku  di dunia ini kan begitu terbatas, singkat, dan tak selalu indah. Retno, ingat ya…! Rasa syukur dan sabar yang menghiasi hidupku tidak datang tiba-tiba. Semua berproses.” Ada senyum kepuasan yang kulihat di mata Mayang.

  “Begitu banyak nikmat Allah  yang kurasakan dan aku tak mampu menghitungnya. Aku merasa selalu saja ada jalan keluar untuk semua urusanku dari yang sangat sederhana sampai masalah yang rumit. Orang lain mungkin melihatku merasa kasihan dan iba. Itupun kalau dia adalah orang yang hidup berkecukupan dan strata ekonominya di atas aku. Ada juga orang  menilai diriku adalah wanita yang hebat dan tegar . Karena dia memandangnya  di saat merasa hidupnya tercabik-cabik ketika ditinggal suaminya dan tidak tahan dengan beban hidup yang menghimpitnya.”
” Koq bisa ya hidup menjanda sekian tahun?” Masih kuingat ucapan Andri teman SMPku.
“Setiap orang berhak menilaiku sesuka hati mereka Retno.” Nada suara Mayang datar saja tanpa emosi.
“Jalan yang ku tempuh masih panjang. Kadang ada keletihan dalam hidupku ketika harus berusaha sendiri, imanku naik turun, ketika terbentur masalah keuangan dalam waktu bersamaan ketiga anakku membutuhkan dana yang cukup besar. Bayar SPP, bayar Study Tour, bayar uang Pratikum,dan sejuta pengeluaran lain yang begitu banyak antri minta dipenuhi semua. Wa laa haula wa laa quwwata illa billahil’aliyyil’aziim.” Retno semakin terharu. Ternyata perjuangan single parent itu tidak mudah.
“ Seharusnya aku lebih bersyukur dari Mayang, karena ada mas Bimo yang sangat care padaku dan keluarga,” Sesaat Retno teringat suaminya yang sering dicereweti.

“Saat itulah aku dituntut menjadi pemain sirkus yang andal yang harus bisa memecahkan masalah tanpa masalah (pegadaian kali ^-^ ). Retno, di zaman serba susah, dimana biaya pendidikan begitu mahal, dimana semua kadang serba tidak pasti. Karena apa yang kita harapkan ternyata luput dari genggaman. Andai aku tidak smart dalam mengatur strategi keuanganku, andai aku tergiur dengan pola hidup konsumtif, andai  aku hanya memikirkan diriku sendiri dan tidak punya komitmen dengan Allah dan suamiku, andai aku cuek bebek lalu  hanyut terbawa arus setan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancur dan merananya kehidupan anak-anakku.” Ah begitu semangatnya Mayang menumpahkan semua isi hatinya padaku.

Pertemuan ini dikuasai Mayang. Mie-ketropak yang mereka pesan hampir dingin dan tidak menyelera lagi ketika disantap. Tapi hati Mayang begitu lega karena bisa berbagi dengan Retno yang sangat dikangeni.
“ Mayang, aku salut dengan sikapmu menerima takdir Allah. Aku belum tentu bisa menjalani seperti yang kau lakoni. Seharusnya aku bisa lebih bersyukur darimu.” Retno seakan kena tampar malaikat yang mengingatkan dirinya agar tidak zalim pada suami.
*****
 Rembulan di tanggal 14 memantulkan cahayanya benderang di luar sana. Mayang mengintip keindahan itu dari balik tirai. Kesunyian malam selalu menemani hidupnya. Dinginnya udara malam, terasa sampai ke tulang sumsum. Tapi semua tak membuatnya jera duduk berlama-lama untuk bercinta dengan-Nya. Saat dimana hati selalu  membuncah memuja-Nya. 

“Entah sampai kapan aku hidup dalam kesunyian yang selalu kunanti dari hari ke hari di sepanjang sisa hidupku. Dalam bermunajat dengan-Nya. Selalu saja mataku basah dan berurai air mata. Inilah klimak dari caraku bercinta dengan-Nya. Dua magic words yang kumiliki seakan jadi kata-kata sakti penguat hidupku. Benar-benar ku genggam password “ Sabar dan Syukur”yang ditanamkan oleh kedua orangtuaku. “
“ Ya Allah izinkan aku flashback sejenak, agar aku tidak menjadi ciptaan_Mu yang tidak sombong, melainkan menjadi hamba-Mu yang pandai bersyukur dan Narimo dengan apa yang menjadi ketetapanMu.” Dibiarkan pikirannya mengembara di saat ia berjuang membesarkan tiga buah hatinya, dari hasil cinta mereka yang singkat.

“ Aku  bisa merengkuh manisnya nikmat Sabar dan syukur itu sungguh luar biasa. Ya sabarku ketika Allah mengambil apa yang jadi milikNya. Orang yang dijodohkan olehNya, pria yang amat sangat singkat hidup denganku. Lalu tiga orang anak yang menjadi tanggung jawab kami, harus ku apakan? Mereka masih butuh sosok seorang ayah. Tapi Allah mempercayaiku untuk menghidupi mereka tanpa sosok seorang ayah.” Kalimat penguat itu selalu jadi tameng hidupnya.

“ Ya Allah izinkan  mengenang orang orang yang berjasa dalam hidupku setelah kepergian suamiku. Ada Umi dan Abi yang selalu menyemangati hidupku agar tidak menyerah ketika membesarkan anak-anakku. Ada Fatimah sohib kentalku yang selalu ada saat aku suntuk maupun stuck at trifles, dia menghiburku layaknya adiknya sendiri, memotivasiku agar tetap tegar dan maju terus pantang mundur. Dia juga menyulutkan api cinta, sayang dan harapan dalam hatiku agar tetap menyala menyinari ketiga anakku. Makasih Umi makasih Abi makasih Fatimah. Kalian lah duta Allah yang diminta untuk menjagaku dan menghiburku di kala hatiku galau tak menentu. Tak mungkin aku melupakan jasa mereka.” Cara Mayang bersyukur sangat santun sehingga tidak ada kegelisahan dalam hatinya.
Mayang sadar benar bahwa ia bukan super woman. Ia manusia biasa yang punya logika dan perasaan kadang di penghujung malam menjelang pagi ini ada terbersit rasa untuk mengenang orang yang dikirim setan untuknya.

“Masa iya,  koq bisa sih setan ngirim orang untuk melemahkan imannya” Nyatanya memang ada. Ya ,Mayang  ingat Rudi teman SMAnya yang dulu pernah naksir aku. Dia mencoba memasuki koridor hatiku setelah suamiku pergi. Aku mau dijadikan istri kedua dan dinikah secara siri. Karena dia sudah berkeluarga tapi ingin ngopeni diriku dan anak-anakku. No way ya Rudi! “ Jawabku tegas. Jalanku jalanmu yuk kita berpacu membimbing anak-anak kita agar menjadi penyejuk hati.

Pak Burhan atasanku yang di perusahaan asuransi juga pernah berminat dengan diriku setelah istrinya meninggal karena sakit kanker rahim .Ketika tanpa basa-basi dia meminangku, kutolak dengan halus.”Maaf Pak Burhan saya lebih nyaman hidup seperti ini. Sudah menjadi komitmen ketika kami menikah dulu. Cinta kami tidak bisa tergantikan, siapa yang lebih lama hidup dialah yang bertanggungjawab untuk membesarkan buah hati kami tanpa harus ada pengganti  dari kami”. Alhamdulillah dia mengerti perasaanku dan juga alasanku.

“Wow  kalau si Adnan bujang lapuk yang begitu perfect menata hidupnya hingga takut married juga pernah secara serius ingin menjadi pendampingku. Alamak ini sih cari masalah usianya saja terpaut 10 tahun denganku!.Anak orang kaya, tidak pernah susah, sudah sattle pula hidupnya. Kalau kuterima pinangannya apa kata dunia?  Senang brondong ya!!!!!!!!!!! he he Tidak lah yauw…!” Hatiku tertawa sendiri

Kejadian itu masuk begitu saja dalam episode kehidupan Mayang. Dan semuanya masih bisa dibentengi  dengan password “Sabar dan Syukur.”  Sabar ketika Allah mengujinya dengan mengirim ketiga pria yang  latar belakang kehidupannya berbeda dan terang-terangan ingin melamarnya. Mayang tidak grusa- grusu dalam menjawab semua lamaran itu. “Ya Allah, jauhkan mereka dariku, jangan Kau jadikan mereka sebagai penghalangku dalam membesarkan dan membimbing anak-anakku.” Mayang bersyukur karena aku selalu diberi kekuatan dan ketetapan hati untuk mengatakan “Tidak” kepada mereka. Karena aku punya janji dengan Allah dan mendiang suamiku bahwa aku harus sanggup membesarkan buah hatiku hanya dengan pertolongan Allah. Alhamdulillah mereka mau mengerti apa yang menjadi alasan Mayang 

“Ya Allah malam ini aku tersenyum bahagia atas semua nikmat yang telah Kau berikan padaku. Maafkan aku Ya Allah karena tanpa kusadari aku sering mengeluh dan mendekteMu agar diberi kemudahan, diberi kekuatan, diberi hidayah, dan seabreg permintaan yang malu aku sebutkan satu persatu. Padahal aku yakin kau Maha Mendengar, Maha Pemberi, Maha bijaksana dan Maha yang lainnya sesuai dengan diriMu yang memiliki Asmaul Husnah.Ya Allah semua itu kulakukan karena aku tak ingin jauh dari rahmatMu, ku tak ingin setan membujukku agar aku ingkar akan NikmatMu, lalu dihantui  rasa takut miskin, rasa was-was yang berkepanjangan, perasaan ragu akan KeagunganMu. Dan perasaan-perasaan lain yang menjauhkanku dariMu.” Selalu kubermunajat di malam heningku.
.
“Ya Allah. Semoga munajatku padaMu malam ini akan menambahkan kekuatan imanku, menambah gairah hidupku, untuk tetap istiqomah dalam meraih ridhaMu. Buah hatiku masih butuh bimbinganku, bekalku untuk hidup yang lebih kekal belum cukup. Beri akau kesempatan untuk bisa melihat amanahMu yang Kau titipkan padaku sukses meraih ridhaMu. Beri aku umur panjang yang bermanfaat Ya Allah, agar bekalku lengkap, dan tidak menyesal ketika dihisab karena aku termasuk orang yang beruntng. Ku ingin tersenyum ikhlas ketika menghadap-Mu dalam keadaan husnul khotimah. Amin.”

Di saat ayam berkokok dan datangnya mentari yang tak pernah ingkar janji, Mayang semakin optimis bahwa hidupnya yang dekat dengan Allah begitu indah dan password “ Sabar dan Syukur itu jadi kekuatan hidupnya sampai saat ini.

Dikutip dari Novel Hidayah " The Stories of Wonder Women" By: Sri Sugiastuti 


Senin, 01 April 2024

Siapakah yang Dirindukan Menjadi Penghuni Surga?


Siapakah yang Dirindukan Menjadi Penghuni Surga?

Oleh: Sri Sugiastuti

Setiap Ramadan selalu ada catatan istimewa yang perlu ditindaklanjuti. Bagaimana dengan sisa usia yang ada, terus berikhtiar mengupgrade diri agar naik kelas. Allah pasti punya catatan tersendiri untuk mereka yang berjuang meraih gelar takwa juga punya keinginan kuat menggapai rida-Nya.

Kegiatan yang sangat mendukung ke arah ketakwaan bisa dilaksanakan di masjid, di rumah atau pun di perjalanan. Hampir di setiap masjid punya acara andalan yang disajikan kepada warga sekitar. Begitu juga dengan warga yang sadar akan keberadaan masjid, sudah pasti dijadikan tempat untuk melaksanakan berbagai amalan di bulan Ramadan.

Tiap hari warga masjid menjalankan program Ramadan sebaik-baiknya. Momen ini menjadi sarana untuk menambah keimanan, ketakwaan, juga kesempatan untuk
memuliakan bulan Ramadan. Rata- rata sehari 2 kali sehari warga masjid yang mengikuti kajian juga salat taraweh dan salat fardu di masjid mendapat siramam  rohani yang bisa mencerahkan batin mereka masing- masing.

Ada catatan kajian usai salat Subuh di Ramadan hari ke 21 yang sangat mencerahkan dan menambah semangat jamaah yang mengikuti kajian tersebut. " Siapakah yang dirindukan Surga?" Satu pertanyaan yang membuat jamaah tergelitik.

Dijelaskan oleh Pak Ustad ada empat  golongan yang dirindukan sebagai penghuni Surga

1. Orang yang mentadaburi Alquran.Banyak ayat dan hadis yang menguatkan pernyataan tersebut.

Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (QS Al-Isra: 9).
Dengan tekun mempelajari dan melaksanakan tadabbur Al-Quran, maka Insya Allah kita terhindar dari kemaksiatan dan kekufuran karena Al-Quran akan selalu menuntun kepada kebaikan. Begitu juga dengan Guru TPA yang mengajarkan Al Quran menjadi orang yang dirindukan Surga.

2. Orang yang menjaga lisan. Berhati- hatilah dengan ucapan yang meluncur dari mulut kita. Kepelesetnya lisan dibawa mati. Gunakan prinsip"Bicaralah yang baik atau diam". Fenomena yang ada saat ini justru ghibah semakin merajalela.
Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda terkait ghibah:
"Tahukah kamu, apa itu ghibah?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Kemudian Beliau bersabda, "(Ghibah yaitu) kamu membicarakan (menyebut-nyebut) saudaramuatas hal-hal yang tidak disukainya (dibencinya)."
Ditanyakan kepada Rasulullah, "Lalu bagaimana jika apa yang aku bicarakan itu memang benar ada pada diri saudaraku?" Rasulullah SAW berkata, "Jika apa yang kamu bicarakan itu memang ada pada diri saudaramu, maka kamu telah menggunjingnya. Dan jika yang kamu bicarakan itu tidak ada pada diri saudaramu, maka kamu telah berbuat kedustaan (kebohongan) terhadapnya." (HR Muslim).
Itu sebabnya orang yang bisa menjaga lisanya menjadi orang yang dirindukan Surga.Mereka berbicara yang baik, taat pada Allah dan tidak menyakiti orang lain dengan lisannya.

3. Orang yang sering memberi makan hambabAllah yang membutuhkan. Mereka yang rajin bersedekah karena Allah. Termasuk menginfaqkan sebagian rezekinya di jalan Allah.
QS. Ali Imran ayat 134: "(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” 
Sangat jelas ayatnya. Mereka dicintai Allah dan dir8ndukan Surga.

4 . Orang yang berpuasa di bulan Ramadan. Ternyata
ada 2 kebahagiaan yang diterima orang yang berpuasa.  Kebahagiaan yang utama saat mereka berbuka puasa. Yang kedua kelak mereka akan masuk seaat  pintu Royan.

Selain di dalam Al-Qur'an, kewajiban ibadah puasa juga disebutkan dalam sejumlah hadis, yaitu:
Rasulullah Shallallahu'alahiwa sallam menyampaikan
“Seluruh amalan kebaikan manusia akan dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta'ala berfirman, “Kecuali puasa. Sebab pahala puasa adalah untuk-Ku. Dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia (orang yang berpuasa) telah meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku." HR Bukhari & Muslim.

Nah, 4 golongan ini sangat dirindukan Surga. Tema Pencerahan  ini walaupun sering didengar atau disampaikan tetap saja menjadi kabar gembira dan memotivasi diri supaya tetap semangat menggapai rida Allah.

Soloraya 01 04 2024

Rabu, 13 Maret 2024

CINTA DUNIA ITU PENYAKIT HATI


CINTA DUNIA ITU PENYAKIT HATI

Oleh : Sri Sugiastuti

Dunia dan segala isinya selalu menggoda. Allah ciptakan dunia sebagai tempat hidup makhluknya sejak ia lahir hingga menutup mata. Sedangkan banyak pedapat mengatakan bahwa dunia memiliki komposisi sesuai yang tertuang dalam sebuah ayat yang sangat popular. 

Allah dalam firman-Nya; “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (Al-Hadid : 20)

Kalimat “dunia hanyalah permainan” Al-La’ibu dan Al-Lahwu yang merupakan PERMAINAN. Maksudnya Al-Laibu adalah apa saja yang menyebabkan seseorang cinta dunia, sedangkan Al-Lahwu adalah apa saja yang membuat orang lupa akhirat dan menyepelekannya. Dan nyatanya kehidupan kebanyakan manusia di muka bumi ini adalah seperti itu. Mereka menghalalkan segala cara, silau dengan kekayaan yang dimiliki orang lain, rela berbuat curang dan masih banyak perbuatan yang melanggar hukum yang disebabkan karena cinta dunia.

Selanjutnya ada kata Az-Zinah adalah PERHIASAN. Dunia memang perhiasan, kebanyakan orang berlomba-lomba menghias dirinya dengan fasilitas dunia tanpa beramal untuk kehidupan akhirat. Sebagai perhiasan, dari kekayaannya, orang bisa pamer apa yang sudah dicapai, apa yang sudah dimiliki, apa yang menjadi lambang kesuksesannya seakan diukur dengan harta yang dimiliki di dunia ini dalam bentuk fisik dan materi.

Tafakhurun bainakum, makudnya adalah sebagian dari manusia banyak yang berbangga diri dengan segala sesuatu yang dia dapatkan di dunia terlebih fisik dan kekuatannya. Mereka bangga dengan capaian yang sudah diperoleh tanpa melihat prosesnya sudah benar atau belum. Yang jelas keberadaan dan kekayaannya bisa dinilai orang lain bahwa ia sukses dan bisa diperhitungkan kekayaan dan kesuksesannya.

Takatsurun fi Al-Amwaal wa Al-Aulaad, yaitu manusia berbangga diri dengan harta kekayaannya dan anak-anakya atas orang miskin. Ini yang sangat menyedihkan dan jadi penyakit hati hamba Allah yang diuji dengan harta benda dan kesempatan untuk diberi amanah, tetapi tidak bisa menjalani dengan baik. Mereka kadang memandang orang yang kurang beruntung dengan pandangan menghina, atau menyalahkan tanpa mau membantu dan menanyakan apa sebabnya.

Sebenarnya bila direnungkan lebih dalam bahwa Allah menciptakan dunia dan seisinya memang untuk lahan amal ibadah kita semua. Bagaimana bisa mengelola dengan baik dan memanfaatakannya dengan cara yang ma’ruf.

Jadi, kehidupan dunia dengan segala kenikmatannya yang diciptakan Allah SWT untuk manusia itu tidak haram atau makruh untuk dinikmati. Tetapi, jika kenikmatan dunia itu akan memalingkan manusia dari akhirat maka semuanya bisa berubah menjadi makruh bahkan haram. Alangkah baiknya jika kita menggunakan fasilitas dunia ini untuk mengumpulkan bekal kita diakhirat kelak dengan selalu beribadah dan mendekatkan diri pada-Nya.

Cinta dunia akan jadi penyakit hati, ketika tidak ada pengertian dan kesadaran manusia dalam mengelolanya. Kegelapan akibat manusia terlalu cinta pada dunia memerlukan titik cahaya penerang yang akan menunjukan manusia pada kesadaran hakikat manusia hidup di dunia ini. Penerang tersebut adalah takwa. Dimana takwa merupakan mengerjakan perintah Allah SWTyang menghasilkan keridaan dan pahala Allah SWT dan senatiasa menjaui larangan-Nya yang mengantarkan kita pada kemurkaan Allah SWT. Takwa juga merupakan kesempurnaan yang melindungi manusia dari apa saja yang merugikannya pada hari kiamat kelak.

Jadi intinya penyakit hati karena cinta dunia bisa dibentengi dengan ketakwaan yang dimiliki dan dibangun oleh manusia itu sendiri. Semoga kita bisa menjadi manusia yang bertaqwa sesuai dengan AlQuran dan As sunnah.

Belajar mengingatkan diri sendiri dan mengamalkan satu ayat yang ada di dalam Al Quran dan berbagi.

01 Ramadhan 1440
Pernah menghiasi blog gurusiana tahun 2018

Selasa, 12 Maret 2024

BULAN RAMADAN IDENTIK DENGAN AMPUNAN


BULAN RAMADAN IDENTIK DENGAN AMPUNAN

Oleh Sri Sugiastuti

Manusia hidup tak pernah lepas dari jeratan dosa. Baik itu dosa ringan atau pun dosa berat. Itulah sebabnya kita selalu memohon ampunan di saat selesai salat fardhu atau pun jadi bagian kalimat toyibah yang kita ucapan setiap hari.

Di zaman yang serba instan di era milenial banyak peluang untuk berbuat dosa. Contohnya banyak dimanfaatkan orang dengan melakukan penipuan online, menjadi hacker, memproduksi berita hoax dan menjualproduk palsu. Itu semua bagian dari mudahnya berbuat dosa tanpa ada filter yang kuat untuk membentengi yaitu keimanan dan ketakwaan seseorang.

Ada juga dosa yang dihasilkan karena ketidaktaatan pada perintah Allah seperti meninggalkan salat karena te berlama-lama berada di Mall, main games, atau sekadar bersibuk diri membaca komentar di WA, tidak puasa di bulan Ramadan, melakukan free sex, berjudi, ikut transaksi narkoba, dan masih banyak lagi. Perlahan tapi pasti akhirnya mereka menyadari berada di tempat yang salah, telah melakukan yang dilarang Allah dan mereka pun mulai galau dengan apa yang sedang dikerjakan karena sudah melenceng jauh dari apa yang dipeirntahkan Allah SWT.

Dalam kegalauan mereka akan kembali pada Al Quran dan membuka petunjuk yang ada di dalamnya. Allah SWT, Allah berfirman.
“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS At-Tahrim: 8)
"Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat nasuha (tobat yang semurni-murninya)." Sebenarnya apa yang dimaksud dengan tobat Nasuha?
 Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan, tobat nasuha, yaitu tobat yang jujur, yang didasari atas tekad yang kuat, yang menghapus kejelekan-kejelekan di masa silam, yang menghimpun dan mengentaskan pelakunya dari kehinaan.

Dalam kitab Riyadh as-Shalihin dijelaskan, jika kemaksiatan itu menyangkut urusan seorang hamba dengan Allah saja, tidak ada hubungannya dengan hak manusia, tobatnya harus memenuhi tiga syarat. Pertama, hendaklah berhenti melakukan maksiat. Kedua, menyesal karena telah melakukan kemaksiatan. Ketiga, berniat tidak akan kembali mengulangi perbuatan maksiat itu untuk selama-lamanya. Apabila tobatnya berkenaan dengan hubungan sesama manusia, tiga syarat tersebut ditambah satu lagi. Orang yang bertobat itu harus meminta kehalalan dari orang yang diambil hak-haknya atau dizalimi.

Tiga syarat tadi mutlak dipenuhi pleh orang yang ingin bertobat. Memang saat bertobat tidak harus menunggu bulan Ramadan.Tetapi sangat jelas bahwa bulan Ramadan adalah bulan ampunan.Jadi sangat cocok buat orang yang sedang galau dan merasa sudah melangkah terlalu jauh dari perintah Allah untuk segera bertobat. Manusia masih diberi kesempatan dengan datangnya bulan Ramadan yang penuh keberkahan, ampunan dan terbukanya pintu surga bagi orang-orang yang ingin menjadi penghuninya.

Rasulullah mengajarkan kita mengiringi keburukan dengan kebaikan, niscaya dengan kebaikan itu akan gugur tiap-tiap keburukan. Karena, seperti sabda Nabi dari Abdullah bin Umar, "Sesungguhnya Allah menerima tobat hamba selama ruhnya belum sampai di kerongkongan."
Momentum bulan Ramadan sangat tepat untuk menggapai ampunan dengan bertobat nasuha. Allah selalu memberi kesempatan pada umat-Nya untuk bertobat. Masalahnya bagaimana dengan perasaan dan kesadaran manusianya sendiri. Apakah dia tetap terlena atau menyadari dan merasa galau dengan dosa-dosa yang diperbuat.

Saatnya memohon ampunan untuk dosa yang telah diperbuat baik itu dosa kecil maupun dosa besar, baik yang disengaja maupun tidak. Selagi masih ada kesempatan. Ayo lakukan jangan ditunda lagi.

Sri Sugiastuti, belajar mengamalkan satu ayat untuk dirinya dan berbagi.
Pernah menghiasi  Blog Gurusiana 2018

Rabu, 06 Maret 2024

Ketika Tangan Allah Bekerja (2)


Ketika Tangan  Allah Bekerja (2)
OTW Solo- Segoro Gunung

Oleh: Sri Sugiastuti

Acin...
Kesayangan ibu... apa kabarmu Nak?
Weekendmu nun jauh disana kau isi dengan giat apa?
Semoga celoteh ibu tentang tadabur alam sekaligus silahturahmi yang ibu sampaikan,  membuat kau seakan membersamai kegiatan ini.

Acin...Mobil bermata sipit itu bergerak lambat ke arah Karanganyar. Suasana malam Minggu membuat lalu lintas padat merayap. Biasanya bada magrib seperti ini, ibu masih warisan  hingga azan Isya. Saat memandang lurus ke jalan, pikiran ibu flashback saat ibu kuliah 45  tahun lalu.  Jalan Raya itu banyak menyisakan kenangan indah. Awal pertama ibu mengajar di sma swasta pgri Karanganyar.  Ibu harus naik angkot. Jaraknya juga lumayan jauh butuh 2 jam lebih. Karena waktu itu ibu sebagai guru muda, usia tidak banyak terpaut dengan siswa yang duduk di kelas 12 atau siswa yang hampir lulus. Mereka dari desa banyak yang telat masuk SMA jadi ada juga yang usianya sebaya dengan ibu.

Acin... ibu  mau cerita ya. Awal jadi guru ibu sangat akrab dengan siswa- siswi di SMA itu. Ibu jadi ingat saat ada siswa yang ngirim surat cinta. Di sudut amplop ditulis "untuk guruku yang Manis." (Padahal ibu tidak membawa tongkat dari pohon tebu.) Isi suratnya sopan dan ditulis dengan bahasa yang santun. Alhamdulillah untuk kasus ini bisa ibu selesaikan dengan baik tanpa melibatkan guru, juga Kepala Sekolah. Belakangan ini baru ibu cerita dengan bapakmu. Lucu ya! Padahal di mata teman mahasiswa ibu memberi lebel bahwa ibu termasuk  gadis tomboy. Sebagian besar teman ibu cowok.

Si Avanza mata sipit terus melaju ke arah Karangpandan. Lagi- lagi memori ibu bekerja. Seminggu sebelum acara gathering ibu sudah pesan sesuatu dan sesuatu ke mbak Yuni. Ingatkan!  Dia yang momong Acin saat usia untuk 4-6 tahun. Sebagai ART yang lumayan banyak membantu kita. Dia keluar karena dipinang tetangga lain desa yang belum pernah dikenal sebelumnya. (Biasa campur tangan orangtua dan Tangan Allah Bekerja). Saat itu ibu dapat izin menghadiri pernikahan mbak Yuni di desa.

Ada satu peristiwa yang baru sekali ibu temukan sampai saat ini. Proses menghitung uang sumbangan dari tamu yang hadir. Selain ada yang menyumbang barang dan dicatat dengan rapi. Ini penting untuk dokumentasi bila suatu saat si penyumbang juga punya hajat, hukumnya wajib menyumbang lebih besar dari apa yang disumbangkan saat ini. Nah saat menghitung sumbangan ada prosesi dimana uang dari dalam kotak Sumbangan ditaruh atau dipindah ke baju pengantin putri yang tadi dipakai saat di pelaminan. Setelah amplop sumbangan dipindah, baru dibuka, dicatat dan hitung sampai tuntas. Maknanya mungkin, suami yang mencari rezeki, istri yang harus mengelola dengan baik.

Acin ibu bukan mau cerita tentang sumbangan pernikahan.  Karena tiba- tiba melintas jadi ibu tulis saja. Ibu  sudah kontak mbak yuni supaya pesan getuk dan durian. Ibu teringat saat ini musim durian. Dan getuk yang sering mba yuni  bawa ke rumah itu enak sekali. Terbayang saat dua jenis pesanan ibu dihidangkan sebagai pot luck yang ibu bawa. Oya selain itu ibu juga bawa pipes, oseng bunga pepaya, singkong rebus dan tahu isi. Terbayang besok menu yang akan tersaji sudah bikin perut lapar.

Oya di mobil juga ada combro buatan ibu yang menyelera. Untuk isinya si oncom ibu ganti gembus dan tempe.Ya tetap enak. Maklum makanan berbahan baku singkong selalu menjadi makanan  favorit ibu. Coba hitung berapa jenis makanan berbahan baku singkong yang ada di Nusantara. Banyak sekali. Ini bagian dari kekayaan Indonesia.


Acin bisa merenung ya! 

Dari apa yang ibu tulis itu tidak lebih dari rasa syukur  ibu yang ibu kemas dalam satu tulisan. Betapa ibu bersyukur diberi umur panjang.  Betapa ibu bersyukur bisa napsk tilas dan silahturahmi bersama keluarga besar ibu dari beberapa generasi. Š•yang, ibu, bude, anak mantu, cucu, dan buyut. Tanpa campur tangan Allah, sangat tidak mungkin. Adanya nikmat sehat dan sempat. Ibu dipertemukan dengan orang- orang baik.

Soloraya, 06 03 2024


Senin, 04 Maret 2024

Ketika Tangan Allah Bekerja

Saat healing tadabur alam di kawasan hutan menuju Paralayang Kemuning ( dokpri)

Ketika Tangan Allah Bekerja

Oleh: Sri Sugiastuti

Acin yang selalu ibu peluk dalam doa.

Terima kasih semalam sudah bisa ngobrol sama bapak dan ibu via vicall sambil leyeh-leyeh di kamar. Bapak seperti bisa selalu flash back dengan cerita zadulnya saat SR kelas 5 di desa dan hijrah ke Solo. Betapa bangganya dia yang anak desa bisa jadi juara karena selalu banyak bertanya. Sementara temannya yang anak kota selalu membullynya. "Dasar cah ndeso kebanyakan bertanya!"

Kalau cerita ibu beda lah. Acin paham ya, bapak ibu tidak punya "gerobak" untuk transportasi ke luar kota. Mas  Ndaru rempong sama mertuanya yang sakit,  mbak Ratih dan kantornya juga kegiatan anak- anaknya. Bapak sebagai penasihat ibu yang harus didengar sarannya. "Rental plus plus dan jangan merepotkan anak." Ide bagus tinggal telpon mas rental, beres. Ternyata kenyataan tidak sesimpel itu.

Bapak ngga ikut, tetapi ada tante Wiwik dan cucunya dari Malang, dan juga tante Nesi dan Amor anaknya yang dari Yogya. Mas Adi rental ngga bisa bantu, mobilnya keluar semua maklum weekend. Ngga kurang cara ibu hubungi nomor WA driver grab yang ibu simpan, masih belum beruntung karena posisi Amor masih di yogya dengan acara penguatan mental jelang ujian SMA. Ibu ngga bisa kasih estimasi waktu.

Usai salat asar dan zikir petang, ibu selonjoran. Tante Wiwik sama Tante  Nesi malah ngeluyur dari stasiun Balapan ke stasiun Klaten PP. Ibu santai saja menunggu mereka pulang dan nunggu kabar Amor. Pasti ada solusi dan malam tetap sampai harus sampai Segoro Gunung (nama desa di bawah bukit paralayang Kemuning Karanganyar). Acara gathering keluarga yang sudah dirancang sebulan yang lalu.

Bapak yang paham medan dan lokasi desa itu, karena dulu zaman jadi guru hampir tiap tahun Kemah dan hiking di desa  Segoro Gunung. Bapak pun mulai banyak pesan ini itu. Ibu sudah berkaos warna hijau harus ganti. Apalagi kiriman video dari bude Nunuk kalau disana sudah turun kabut dan baru saja turun hujan. Nah jiwa petualangan ibu mulai terbakar. Terbayang kelap kerlip kota Solo dan Karanganyar bila dinikmati dari vilanya Tante Yanti. Belum lagi celoteh tante- tantemu yang seumur dengan ibu.

Ibu balas chat bude Nunuk ehh,... ternyata tante Wiwik pulang sudah ready dengan mobil plus driver yang siap ngantar Ibu dan grupnya meluncur ke Segoro Gunung. Awalnya Ibu under estimate  dengan penampilan drivernya yang seperti tukang sayur tetapi berjaket kulit. Tetapi waktu Ibu masuk mobil dan duduk di samping driver. Wow nyaman banget itu mobil Avanza terbaru 2023. Allah memberi  kesempatan memanfaatkan sarana yang ada, ya harus disyukuri,  yang penting ibu menikmati kenyamanan ini.

Mobil sudah meluncur ke stasiun. Si Amor belum masuk stasiun Balapan, azan magrib berkumandang. Ibu ambil inisiatif salat dulu di masjid stasiun Balapan yang bersih dan megah. Karena buru- buru ibu ngga ambil tas mukena. Ehh... saat ibu selesai wudhu, ada petugas yang sedang ganti mukena bersih dan wangi. Ibu pun salat dengan nyaman. Usai salat ibu ngarep pengen salam tempel ke petugas tadi, sekadar memberi kejutan kecil ke mba petugas tadi. Ibu clingak- clinguk.  Mbanya ngga ada, duh ibu menyesal banget. Alhamdulillah saat ibu mau pakai sepatu, mbanya nongol di depan ibu. Langsung salam tempel dong. Dan rasanya plong. Ibu bahagia, dia juga bahagia.

Sore ini ibu banyak belajar dari orang- orang yang ibu jumpai. Mereka bagian dari orang- orang yang dikirim Allah  untuk ibu gaul dan bersinergi. Sebenarnya kalau kita mau merenung, apa pun yang terjadi dan menyadari, saat kita melibatkan Allah semua terasa nyaman dan Teduh.

Soloraya, 04 03 2024




Minggu, 18 Februari 2024

Bertabur Jenang di Festival Jenang Solo


Bertabur Jenang di Festival Jenang Solo

Oleh: Sri Sugiastuti

Sabtu tanggal 17 Februari  2024 menjadi hari istimewa.  Bukan karena imbas  pasca pesta demokrasi atau masih suasana  hari kasih sayang di tanggal 14 Februari. Tepatnya tadi pagi ada Festival Jenang Solo  di Koridor Ngarsapura, Jl. Diponegoro, Keprabon, Banjarsari, Solo. Sebenarnya Festival ini sudah menjadi agenda tahunan yang selalu digelar dengan meriah.

Alhamdulillah ada nikmat sehat dan nikmat sempat. Pak Suami kali ini antusias. Kami pun pada pukul 8.30 sudah merapat di parkiran motor, yang tidak terlalu jauh dari lokasi acara digelar. Acara sudah dimulai. Tarian pembuka oleh penari yang  bernuansa Nusantara ikut memerahkan Festival Jenang Solo tahun 2024.


                             Suasana saat pembukaan Festival jenang Solo 2024,docpri

Festival Jenang kali ini diadakan juga dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-279 Kota Solo yang jatuh pada 17 Februari 2024. Selain itu  bertepatan dengan memperingati Mangayubagya Jumenengan K.G.P.A.A. Mangkunegara X. Pak Heru Mataya Pegiat Yayasan Jenang Indonesia, mengatakan penyelenggaraan sengaja dilaksanakan pada HUT Kota Solo sebagai pengingat warga tentang hari lahir kota Solo.

Pesta jenang dilakukan usai rombongan kirab lewat dan membagikan jenang secara simbolis di panggung utama.  Tampak Wakil Wali Kota Surakarta Teguh Prakosa, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X, dan Pengageng Parentah Keraton Surakarta Hadiningrat Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Dipokusumo hadir di acara ini.


                                  Bersama komunitas Rotary club usai Festival Jenang

Makna jenang dan angka 17 Menurut Pemerhati budaya Solo Tunjung W Sutirto, jenang adalah warisan budaya berupa benda/ makanan  yang sangat simbolik. “Dulu pada 1742, saat boyongan( pindahan) dari Keraton Kartasura ke Surakarta, disimbolkan dengan jenang. Jumlahnya 17 macam jenang. Angka 17 sangat maknawi.  Angka 17 menurut Keraton Mataram Islam di Kartasura, terdiri dari angka 1 yang berarti keesaan Tuhan dan 7 adalah siklus hidup satu pekan dan jumlah langit dalam Islam. “17 juga menjadi tanggal hari jadi Kota Solo, 17 juga hari kemerdekaan Indonesia. Jadi, ada jenang jumlahnya 17 untuk memaknai simbol. Adapun jenang bermakna kehidupan.

                              Acara inti memaknai Jenang untuk simbol  kehidupan docpri

Jenang tidak pernah dibuat saat ada orang meninggal dunia. Tetapi setiap orang yang hidup, mulai dari lahir sampai menikah, selalu ada jenang. Selain itu, jenang berasal dari bahasa Arab, yakni jannah yang berarti surga. Oleh karena itu, masyarakat Jawa harus memegang makna halus ini.

Aneka jenang gratis.

Saat pembagian jenang dimulai, masyarakat langsung mengerubungi tempat-tempat pembagian jenang. Alhamdulillah kami berhasil menikmati  berbagai jenang aneka rasa.

1.Jenang Katul. Jenang yang terbuat dari katul dicampur dengan gula jawa. Saat disajikan disiram santan yang sudah dimasak.

2. Jenang Pandan Nangka. Berwarna hijau cantik dengan campuran buah Nangka. Bertekstur lembut.Ada 2 kuah ( juruh) santan dan gula merah.

3.Jenang  Terik. Dengan rasa gurih lembut. Terik semacam sayur  bersantai yang berisi tahu, ayam, telur dibumbu agak pedas gurih menyelera.

4. Jenang Sumsum.Terbuat dari tepung beras dan santan. Berwarna putih. Saat mau dimakan disiram juruh (air gula jawa)

5.Jenang sambal goreng. Semacam bubur nasi yang lembut diberi sayur bersantan yang berisi  krecek, telur puyuh dan tahu, bisa juga kacang tolo.

6.Jenang grendul. Jenang ini berwarna coklat karena menggunakan gula jawa. Ada butiran/ grendul sebesar kelereng yg terbuat dari tepung ketan, rasanya kenyal.

7. Jenang Tumpang. Bubur nasi yang dimakan campur sayur tumpang. Sayur atau sambal berbahan dasar tempe semangit/ bosok. Dengan aneka bumbu dapur yang khas.  Pelengkapnya ada sayuran rebus seperti kenikir, bayam, tauge, dan kacang panjang.

8. Jenang Ketan Hitam. Bahan dasarnya ketan hitam, dan saat disantap bersama kuah santan.

9. Jenang mutiara atau jenang cantik manis. Tampilannya memang menyelera.  Bahan dasarnya sagu yang bentuk nya bulatan- bulatan kecil saat dibuat dicampur dengan gula. Disantap bersama air santan yang gurih.

10.Jenang Pati Garut. Jenang lembut yang Bahan dasarnya tepung Garut. Jenang ini bisa dikonsumsi penderita sakit maag atau lambung.


Masih ada jenang cenil, jenang candil, jenang sagu dan
jenang yang lain bagian dari berbagai jenang yang dimodifikasi dengan kacang hijau dan jenis lain.

Pengisi stand jenang gratis dari berbagai instansi. Ada yang dari Kelurahan,  hotel, juga berbagai komunitas seperti Rotary club, PKK, Rumah Cerdas dan lain-lain.

Festival yang digelar dari pukul 8.00- 11.00 cukup meriah dan berkesan. Even ini bisa menambah daya tarik wisata ke kota Solo.

Surakarta Hadiningrat,  17 02 2023